“Kegiatan ini telah memperbaiki 500 Ha lahan sawah tadah hujan dengan indeks pertanaman padi (IP Padi 100) atau yang hanya diusahakan sekali dalam setahun melalui pembangunan infrastruktur irigasi sesuai dengan potensi masing-masing wilayah,” papar Ibrahim.
Sementara Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Suriyanto, saat dikonfirmasi mengenai keberhasilan kegiatan ini mengatakan, optimalisasi lahan kering dimulai pada lahan-lahan sawah yang ditanami sekali dalam setahun, bahkan ada yang tidak ditanami dalam setahun.
“Alhamdulillah, berdasarkan hasil pemantauan kami, untuk musim tanam Oktober- Maret 2022 ini lahan tersebut telah ditanami 100 persen dan siap untuk dipanen saat ini. Adapun infrastruktur irigasi yang dibangun antara lain pembangunan irigasi embung, dam parit, perpompaan dan irigasi air tanah atau sumur bor, serta sarana pendukung lainnya,” urai Suriyanto.
Sekaitan penyediaan infrastruktur irigasi air tanah (sumur bor), diungkapkan Anju Saleh selaku tim teknis, menggunakan teknologi terbaru, dengan menggunakan tenaga listrik PLN sebagai energi penggerak.
Energi penggerak itu, lanjut Anju, dapat diakses pada lahan sawah petani melalui jaringan tiang yang dirasakan sangat efektif dan efesien. Adapun pada tahapan pembangunan fisik/konstruksi pengeboran, dilakukan berdasarkan SOP yang telah disusun dan menjadi kunci keberhasilan.
“Kami siap untuk berbagi informasi atau transfer teknologi tentang teknik pengeboran yang telah kami dapatkan ini, dengan harapan dapat diterapkan untuk membangun sektor pertanian pada masa yang akan datang,” bebernya. (kad)