Oleh : H Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar
Manusia yang merasa dirinya lemah, senantiasa berisik, apalagi gemar melakukan huru-hara untuk menihilkan keseimbangan dunia ini, mereka berasumsi, tidak dapat melanjutkan kehidupan tanpa adanya sandaran kepada seseorang.
Pada saat demikian, manusia membutuhkan satu keajaiban, mereka mengharapkan adanya wangsit dari kubur atau hadirnya ratu adil di tengah- tengah mereka.
Lalu kita bertanya kenapa hal demikian dilakukan? Ya, karena mereka merasa lemah. Ketika seseorang merasa lemah, saat itu ada saja orang yang memanfaatkan kelemahan tersebut. Ketika hal ini dimanfaatkan, maka hal ini menjadi kesalahan diri sendiri yang menampakkan kelemahan diri.
Khalil Gibran pernah berkata, “Harapan tidak diperoleh dari hutan, tetapi hutan pun tidak tanpa harapan; kenapa hutan harus berharap, bukankah hutan sendiri merupakan pusat segala harapan? Perlukah mengharapkan sesuatu dari hutan, padahal yang dituju adalah semesta ini? Berharap itu sungguh seperti penyakit, begitu pula dengan keangkuhan seseorang karena kedudukan, kekayaan, dan ketenaran.”
Khalil Gibran melanjutkan, “Manusia yang lahir dan besar di kota, berharap bisa hijrah ke kota, sementara penduduk kota berharap dapat menikmati suasana desa dan ingin menetap kembali di desa. Manusia terkadang mengharapkan sesuatu yang tidak mereka miliki, lalu berangan-angan untuk memilikinya.”
Khalil Gibran sedang mengingatkan dan menyadarkan kita bahwasanya apa yang didambakan telah diraih, tetapi kadang manusia tidak sadar, kalau mereka telah meraih apa yang menjadi dambaannya.
Seharusnya manusia bertanya kepada diri sendiri, apa lagi yang dicari? Apa lagi yang diharap? Bukankah sesuatu yang didambakan telah diraih dan dicapai?
Melihat ketidak sadaran manusia, Gibran mengingatkan, kalau manusia terlalu berharap pada sesuatu yang mustahil di capai, itu adalah penyakit.