Oleh : H Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar
Alquran memuat banyak kisah dan peristiwa masa lalu, agar manusia dapat mengambil pelajaran dari kisah- kisah tersebut. QS: 20: 99, menuturkan, “Demikianlah kami (Allah SWT) kisahkan kepadamu (Muhammad SAW) berbagai keterangan masa yang telah lalu; sungguh Kami telah berikan kepadamu peringatan dari sisi Kami.”
Salah satu kisah masa lalu ialah, kisah tentang Dawud dan Jalut. Kisah Dawud, yang meneruskan misi Nabi Musa AS yang belum selesai untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir'aun dan membawa mereka ke tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina Selatan.
Dawud yang memiliki jumlah tentara yang lebih sedikit, mampu mengalahkan tentara Jalut, yang jumlahnya lebih banyak, QS. 2: 251. Berkaitan dengan hal tersebut, Alquran mengingatkan, “Betapa seringnya suatu kelompok yang kecil mengalahkan kelompok yang besar dengan perkenan Allah SWT dan Allah SWT beserta mereka yang sabar.” QS 2: 251.
Jika direnungkan lebih lanjut, Dawud mengalahkan Jalut itu tidak saja merupakan kisah kebenaran mengalahkan kepalsuan, tetapi juga kisah kualitas mengalahkan kuantitas dan kisah kesabaran atau semangat yang tinggi mengalahkan kesemrawutan dan semangat yang rendah.
Segi ini tercermin dalam kisah Thalut, salah seorang komandan pasukan Dawud, yang mendidik tentaranya berdisiplin dengan tidak mengizinkan mereka meminum air dari Sungai Yordan yang mereka seberangi kecuali seperlunya saja, betapapun rasa haus yang mereka rasakan.
Ini dapat berarti banyak hal. Di antaranya, disiplin kelompok dalam bentuk ketaatan dan kepercayaan kepada pimpinan, lebih-lebih jika pimpinan itu dari kalangan mereka sendiri dan dipandang mampu melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan benar.
Kisah tersebut bisa juga berarti disiplin pribadi, yaitu bahwa dalam perjuangan melaksanakan cita-cita yang benar dan luhur kita tidak boleh mudah terkecoh oleh hal- hal yang menyimpangkan perhatian kita tidak boleh terkecoh oleh hal-hal yang menyimpangkan perhatian kita dari tujuan semula.
Segi kualitas lebih penting dalam segala hal daripada segi kuantitas. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kepada umatnya, bahwasanya suatu hari jumlah manusia yang mengaku Muslim begitu besar namun mereka bagaikan buih yang tidak bermakna dan berdaya, maka Rasulullah SAW, mengingatkan, jumlah mayoritas tidak bermakna sama sekali jika tidak bermutu. Allah A'lam. ***
Makassar, 9 September 2022

