Emosi Qahar Mudzakkar dan Korban 40.000 Jiwa

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan yang diungkapkan M. Said Dg. Matutu, 63 tahun (pada saat penelitian), dalam keterangannya 24 Oktober 1979 dalam penembakan di Bulukumba dan Tanete 4 orang ditembak di Kampung Gadde, Kampung Bonto Tiro (2 orang jadi korban), Ujung Loe (8), Batu Karopa, Palampang (8), Cempagae (4), dan di Tanete Kota 8 orang.

Di bagian utara Sulsel seperti di Barru (13 Januari 1947) terdapat 49 korban, Parepare dan sekitarnya (14 Januari) 25 orang tawanan ditembak mati, di sekitar Parepare (16 Januari) 23 orang, di Rappang (17 Januari) wanita dan anak-anak pun ikut tertembak. Pada tanggal 19 Januari, di sekitar Parepare dan Suppa 207 orang jadi korban, di Baccukiki (22 Januari) 9 orang, dan Datu Suppa Toa (Andi Makkasau) bersama 20 orang lainnya ditenggelamkan ke dalam laut, sementara 3 orang lainnya ditembak mati.

Pasukan Westerling 1 Februari 1947 memasuki Majene di bawah pimpinan Mayor Stufkens, tetapi tidak diketahui berapa banyak orang yang jadi korban. Kemungkinan besar di sinilah yang berhasil diselamatkan oleh Hamzah Daeng Tompo, Pacallaya dari Gowa, sebagaimana dijelaskan oleh Andi Bangsawan Daeng Lira, pensiunan polisi asal Gowa yang pernah bertugas di Majene pada tahun 1960-an. Bangsawan Lira memperoleh informasi dari Maradia Adolang bahwa dia bersama sejumlah orang lainnya diselamatkan oleh Hamzah Daeng Tompo saat mereka sudah dijejer di satu lapangan. Hamzah Daeng Tompo yang menggunakan motor Harley Davidson dari Makassar langsung menghentikan rencana aksi penembakan oleh pasukan Westerling itu.

Operasi pasukan Westerling 1 Februari 1947 juga berlangsung di Kampung Galung Lombok Kecamatan Tinambung, 3 orang jadi korban, di Pamboang Majene 36 orang korban (5 Febrari), kemudian 17 Februari di Lisu Barru terdapat 49 korban.

Baca juga :  Selamatkan Anak Bangsa, Satnarkoba Musnahkan Sebanyak 6,7 kg Narkotika Jenis Sabu di Polres Pelabuhan Makassar

Protes Qahar Mudzakkar

Hingga kini persoalan angka 40.000 yang ditembak Westerling secara akademik dan historis masih menjadi kontroversi. Westerling sendiri mengakui hanya menembak sekitar 4.000 lebih saja dalam operasinya di Sulawesi Selatan. Secara historis istilah 40.000 diucapkan oleh Qahar Mudzakkar pada saat beberapa anggota pasukan ekspedisi Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) ke Sulawesi Selatan kembali ke Yogyakarta akhir tahun 1947. Pada kesempatan itu Qahar yang didampingi K. S. Mas’ud (yang kemudian menjabat Bupati Gowa) menghadap Bung Karno.

Qahar dengan penuh emosional melaporkan kekejaman Westerling kepada Bung Karno dengan mengungkapkan, “kenapa Bapak ribut tentang korban 46 orang yang gugur di Wagon kereta api barang dari Bondowoso ke Surabaya, sedangkan korban 4.000 orang di Sulsel dan malah mungkin 40.000 orang tidak diributkan”.

Ucapan Qahar tersebut diungkapkan K. S. Mas’ud dalam percakapan dengan tim peneliti Kodam, Unhas, dan IKIP Ujungpandang 27 November 1978 di Jl. Supratman No.2 Ujungpandang.

Mendengar laporan dan penyampaian yang emosional Qahar Mudzakkar yang Bung Karno kenal betul wataknya, Presiden sangat terharu dan menerima laporan itu dengan bercucuran air mata dan segera menyiapkan pasukan istimewa yang akan dikirim ke Sulsel dan dilatih sebagai Pasukan Para di Maguwo, Yogyakarta. Mereka dilatih selama 3 bulan, antara lain Bambang Sutrisno, Yasin Bundu cs.

Pada saat itulah Bung Karno mengambil alih istilah korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan dalam setiap pidato-pidatonya. Terutama dalam mengobarkan semangat perlawanan putra-putri Indonesia di seluruh tanah air, khususnya di Sulawesi Selatan. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Empat Personil Angkatan 2003 Bharaduta Polres Soppeng Naik Pangkat Istimewa

PEDOMAN RAKYAT,SOPPENG – Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana S,IK M,IK memimpin upacara Korp Raport (laporan kenaikan pangkat )...

Estafet Keteduhan: Dari Doa di Karebosi hingga Lorong-Lorong Kunjung Mae

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Dentuman kembang api yang biasanya menandai pergantian tahun di Kota Daeng absen pada malam 31...

Malam Pergantian Tahun, Kapolres Pelabuhan Makassar Patroli Dialogis di Pemukiman Padat Penduduk

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP Rise Sandiyantanti turun langsung melakukan patroli dialogis pada malam pergantian Tahun...

Ciptakan Situasi Kamtibmas yang Aman di Malam Pergantian Tahun, Satbinmas Polres Pelabuhan Makassar Edukasi Warga

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Dalam rangka menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif pada malam perayaan Tahun Baru 2026,...