“Dengan pengalaman ini, ilmu saya tentang Toraja bertambah lagi. Awalnya, tidak tahu sama sekali tentang pesta adat tetapi setelah mendapat penjelasan dari Kepala Bappeda dan seorang tokoh adat menjadi lebih paham tentang Toraja,” katanya.
Teti Herawati mengatakan, pengalaman ini akan menjadi bahan cerita yang akan dibagikan setelah pulang dari Toraja.
“Awalnya kami memang penasaran dan ingin tahu tentang Toraja maka ibu-ibu pengen ke daerah ini,” katanya.
Kepala Bappeda Toraja Utara Yohanes mengatakan, tantenya itu meninggal tahun lalu di usia 90 tahun. Alhamarhumah memiliki delapan anak.
Dalam prosesi itu, jenazah almarhumah diarak dari rumah kediaman keluarganya melewati beberapa ruas jalan dibawa ke Tongkonan keluarga, tempat melakukan upacara adat.
Selama pesta yang akan berlangsung lima hari, keluarga akan memotong puluhan kerbau. Termasuk di antaranya kerbau khas yang masyarakat setempat menyebutnya tedong bonga.
Di depan rombongan yang menggotong jenazah ke tongkonan keluarga, digiring belasan kerbau ke lokasi upacara adat.
Bangunan bertenda terlihat berjejer di depan Tongkonan keluarga almarhumah. Di gerbang depan dekat jalan masuk terpajang spanduk ucapan selamat datang buat tamu. Pantiran sangka’na Indo’ Monica Ne’ Panti. Salama’ sitammu mali paman siduppa kaboro.
Sebelum menyaksikan pesta adat Rambu Solo, rombongan Dharma Wanita Persatuan Kemendikbud Ristek berkunjung ke Lolai, negeri di atas awan. Mereka tiba di lokasi sekira pukul 05.00 Wita.
Hadir dalam kegiatan itu Kepala Balai Besar Guru Penggerak Sulawesi Selatan Arman Agung dan nyonya, Kabag Harisman dan nyonya. Hadir pula sejumlah karyawan BBGP Sulawesi Selatan. ***