Selain sebagai dokter, Subari Damopolii juga aktif mengajar di kampus, antara lain di Universitas Muhammadiyah (Unismuh Makassar) dan sempat menjabat Wakil Rektor II, dosen ATEM Muhammadiyah Makassar, dosen Akademi Kebidanan (Akbid) dan sempat menjabat Direktur, dosen Akademi Anakes Muhammadiyah Makassar.
Juga sempat menjadi Ketua Forum D-III Kebidanan PTS Wilayah IX Sulawesi, kemudian dosen Akper Totabuan Kotamobagu, Sulawesi Utara, dosen Akbid Bunda Kotamobagu, dan perintis berdirinya Institut Agama Islam (IAI) Muhammadiyah Kotamobagu yang meruakan perubahan nama dan status dari IAI Azmi Kotamobagu di bawah pengelolaan Yayasan Al Kausar.
Di Muhammadiyah Sulsel, Subari pernah menjadi Wakil Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ontamas Mamajang Makassar (1968–1974), Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mamajang (1974–1985), Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Takalar (1985–1990).
Selanjutnya Ketua Majelis Pembina Kesehatan PWM Sulsel (1990–2000), Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel (2000–2005), dan Anggota Tanwir Muhammadiyah asal Sulawesi Selatan (1990–2005).
Di Muhammadiyah Sulsel, Subari Damopolii bahkan pernah dua kali mendapat suara terbanyak pemilihan calon Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, yakni pada Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Sulsel di Pinrang tahun 1995, dan pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Takalar tahun 2000.
Meskipun meraih suara terbanyak, Subari tidak pernah berambisi menjadi ketua, maka jabatan Ketua Muhammadiyah Sulsel diserahkan kepada fomatur 13.
Pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Pinrang, jabatan ketua diserahkan kepada KH Djamaluddin Amien, sedangkan pada Musywil Muhammadiyah Sulsel di Takalar, jabatan ketua diserahkan kepada KH Nasruddin Razak.
“Kasi yang lain saja. Yang penting, kita ikhlas mengurus umat melalui persyarikatan Muhammadiyah,” kata Subari Damopolii. (asnawin)