Menulis sebagai Jalan Eksistensi
Sesi Rusdin Tompo menjadi momen yang paling banyak memikat perhatian. Dengan materi bertajuk “Mau Eksis? Ya, Menulis”, ia menawarkan perspektif baru tentang sumber ide. Menurutnya, inspirasi bisa datang dari mana saja—bahkan dari anggota tubuh sendiri.
“Semua anggota tubuh kita bisa menjadi sumber ide. Kalimat pembuka tulisan bisa lahir dari jari, mata, atau langkah kaki,” ucap penulis dan Koordinator SATUPENA Sulsel itu.
Ia juga menceritakan pengalamannya mendampingi anak-anak Sekolah Dasar yang berhasil menerbitkan buku. Karena itu, ia meminta peserta menulis tentang tema yang dekat dengan kehidupan mereka: Sekolah Ramah Anak, Adiwiyata, atau Gerakan Literasi Sekolah. “Kita ingin tahu seperti apa sudut pandang anak-anak Makassar,” ujarnya.
Jejak Peradaban Literasi di Tanah Leluhur
Sebagai penutup, Rusdin mengingatkan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memiliki warisan literasi yang luar biasa. Lukisan figuratif ribuan tahun di Leang-Leang Karampuang, aksara Lontaraq yang dilestarikan lewat peraturan daerah, hingga sosok-sosok penting seperti Retna Kencana Colliq Pujie dan Daeng Pamatte—semuanya menjadi bukti bahwa literasi telah berakar dalam sejarah peradaban.
“Kita hanya perlu melanjutkan apa yang telah diwariskan para leluhur,” tuturnya.
Kegiatan Kusuka hari itu bukan sekadar pelatihan menulis. Ia menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan: ketika jejak literasi para leluhur berpadu dengan mimpi anak-anak Makassar yang mulai belajar menuliskan kisahnya sendiri. Dengan satu kalimat sederhana, para pemateri seakan memberi pesan yang sama: masa depan bisa dimulai dari selembar tulisan. ( ab )

