Merancang Kembali Kurikulum Literasi Digital Indonesia Berstandar Etik Lokal

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Penulis: Dr. Zulkarnain Hamson, S.Sos., M.Si. (Dosen Ilmu Komunikasi di Kota Makassar)

Kurangnya pendidikan literasi digital dan etika berinternet merupakan salah satu akar persoalan yang memperparah dampak negatif era digital, terutama di Indonesia. Diperlukan rancangan kurikulum pendidikan baru berlatar kearifan lokal setiap daerah.

Banyak masyarakat menggunakan teknologi hanya sebatas alat komunikasi dan hiburan tanpa memahami implikasi sosial, hukum, maupun psikologis yang menyertainya. Ketidaksiapan ini menjadikan masyarakat rentan terhadap manipulasi informasi, penipuan digital, hingga perilaku tidak etis dalam ruang siber.

Minimnya perhatian pemerintah dan lembaga pendidikan terhadap literasi digital menyebabkan kemampuan masyarakat hanya berkembang pada tataran teknis, misalnya mengoperasikan gawai atau aplikasi, tanpa dibarengi kemampuan berpikir kritis dan refleksi etis.

Padahal, literasi digital yang ideal bukan hanya soal keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman mengenai jejak digital, privasi data, keamanan siber, dan etika bermedia. Ketika ruang digital diperlakukan tanpa nilai moral, maka potensi penyalahgunaan semakin besar.

Pendidikan formal pun belum sepenuhnya mengintegrasikan literasi digital ke dalam struktur kurikulum secara efektif. Sekolah, guru, dan orang tua sering kali tertinggal dalam memahami tren teknologi terbaru, sementara siswa dan anak-anak justru menjadi pengguna paling aktif.

Ketimpangan itu menciptakan kondisi paradoks: generasi muda “mahatahu” soal aplikasi dan media sosial, tetapi “buta” terhadap konsekuensi etikanya, mulai dari cyberbullying hingga dampak psikologis kecanduan layar.

Dalam ruang keluarga, pendidikan digital juga nyaris tidak tersentuh. Banyak orang tua membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pengawasan karena keterbatasan pengetahuan mereka sendiri.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Pameran Seni yang Tak Sempat Terucap, Sebuah Perayaan Ekspresi dari Seniman Outsider Art JKT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Masyarakat Toraja di Tana Luwu, IKAT Pemersatu dan Andil Pembangunan di Daerah

PEDOMANRAKYAT, LUWU RAYA - Bupati/Walikota di 4 (empat) Pemerintah di Tana Luwu (Luwu Raya), mengakui sumbangsih luar biasa...

Jelang Pemeriksaan BPK, Disdik Sulsel Kebut Rekonsiliasi Dana BOSP Sekolah

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Iqbal Nadjamuddin, menegaskan percepatan rekonsiliasi dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP)...

Hj. Buaidah bint H. Achmad Orang Tua Tunggal nan Lahirkan Dua Profesor

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Sekali waktu Ibu Hj. Buaidah binti H.Achmad ke kamar mandi. Itu beberapa tahun silam. Di...

Ketua MUI Sulsel AG Prof.Dr.H.Najamuddin Abd.Syafa, M.A., “Mati Bagaikan Sebuah Pintu”

Ketua MUI Sulsel AGH Prof.Dr. Najamuddin Abd.Syafa (duduk, kiri) didampingi Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A. (Foto:mda). PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Ketua...