Kami berbincang tanpa agenda. Tentang media, komunitas, juga tentang hal-hal kecil yang tidak pernah masuk headline, tapi diam-diam membentuk arah hidup. Menunggu ikan bakar matang sambil memetik daun kemangi terasa seperti pelajaran kecil tentang kesabaran: bahwa tidak semua hal harus dipercepat.
Menunggu bersama membuat waktu kehilangan bebannya.
Saya memperhatikan satu hal yang sering luput: pelayanan yang baik. Bukan karena ia sempurna, tapi karena ia dilakukan dengan hati.
Pelayan yang bersedia mengatur cahaya demi foto pelanggan, misalnya, mengingatkan saya bahwa rasa dihargai sering kali lebih mengenyangkan daripada makanan itu sendiri.
Siang itu, warung penuh.
Orang-orang seolah ingin menutup tahun dengan kebersamaan, dengan perut kenyang dan cerita yang selesai di meja makan. Setelahnya, kami menuju Masjid Cheng Ho. Masjid yang relatif sepi justru memberi ruang untuk diam—dan dalam diam itu, saya merasa akhir tahun tak selalu butuh suara keras.
Kesunyian kadang lebih jujur daripada keramaian.
Kami menutup pertemuan dengan kelapa muda di pinggir jalan. Tidak ada resolusi besar yang dibicarakan. Tidak ada target yang dipatok. Hanya tawa kecil dan waktu yang berjalan tanpa tergesa. Lalu kami pulang ke arah masing-masing, membawa pulang rasa cukup.
Di ujung tahun, saya belajar satu hal sederhana: hidup tidak selalu harus dirayakan dengan kembang api. Kadang, ia cukup ditutup dengan ikan bakar, sahabat lama, dan kesediaan untuk berhenti sejenak—menyadari bahwa kebahagiaan sering kali datang diam-diam, tanpa perlu diumumkan.

