Namun waktu membawa cerita lain. Pada Desember 2024, suami tercinta yang selalu menjadi penyemangat itu berpulang ke hadirat Ilahi. Pasangan pendidik yang menikah pada 4 November 1989 ini dikaruniai tiga anak: Nurul Fajriati Yahya, Syahratul Hawaisa Yahya, dan Muhammad Fahmi Yahya.
Karena itulah, diskusi Permata Karya kali ini terasa jauh lebih personal. Bukan hanya tentang buku, tetapi juga tentang kenangan, keteguhan, dan amanah yang harus diteruskan. Terlebih, acara ini dirangkaikan dengan Launching Program Pannyaleori Institut bertema “Perkuat Literasi demi Pemajuan Kebudayaan.”
Prof Kembong Daeng mengaku, lahirnya Pannyaleori Institut tak lepas dari pesan almarhum suaminya. Sebuah pesan sederhana namun dalam: kembali ke kampung halaman, membangun dari akar, dan menghidupkan literasi budaya—terutama bahasa dan sastra Makassar.
Diskusi buku ini diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori, menghadirkan tiga pembicara: Prof Dr Sukardi Weda (Guru Besar UNM), Rusdin Tompo (editor dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan), serta Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM, tokoh literasi Takalar.
Acara yang akan dihadiri berbagai kalangan ini dipandu oleh Anwar Nasyaruddin sebagai moderator. Nuansa budaya semakin terasa dengan parade pembacaan puisi dan permainan kesok-kesok yang dibawakan Haeruddin, pasinrilik.
Di kampung kecil tempat segalanya bermula, Prof Kembong Daeng kembali—membawa Permata Karya, dan menanam harapan agar literasi terus hidup, tumbuh, dan diwariskan. ( Ardhy M Basir )

