“Turun pupuknya?” tanyanya. “Turun!” jawab petani serempak.
Tak hanya harga, Amran menyebut volume pupuk melonjak hingga 700 persen. Pemerintah juga membangun tujuh pabrik pupuk baru tanpa membebani anggaran negara.
Di sisi pengawasan, Mentan Amran menegaskan pemerintah bertindak tegas terhadap pelanggaran. Sebanyak 2.300 izin usaha dicabut karena melanggar aturan, terutama yang mempermainkan harga.
“Begitu main harga di atas HET, izinnya langsung kami cabut,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, saat ini sudah ada 192 tersangka dalam kasus pangan, sementara pejabat di bawahnya yang berani macam macam langsung dicopot karena dianggap tidak menjalankan perintah Presiden.
“Kami hanya menjalankan perintah Presiden. Tidak boleh ada mafia di pertanian,” ujarnya.
Mentan Amran menilai kerja sama dengan seluruh lembaga lintas sektoral, aparat penegak hukum, TNI, Polri dan stakeholder pertanian menjadi kunci keberhasilan menjaga stabilitas pangan dan harga.
“Petani kita ada 160 juta orang. Kalau dihitung dengan sektor hilirisasi, ada sekitar 180 juta rakyat yang hidup dari pertanian,” katanya.
Menutup pernyataannya, Mentan Amran menegaskan bahwa seluruh capaian tersebut merupakan bukti nyata keberhasilan kerja kolektif Kabinet Merah Putih dalam menjalankan gagasan besar Presiden di sektor pangan.
Produksi pangan nasional terus meningkat, impor berhasil ditekan, dan ekspor pertanian melonjak signifikan hingga 33 persen, dengan stok pangan nasional saat ini mencapai 3,2 juta ton. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) menembus 125,35, tertinggi sepanjang sejarah, yang mencerminkan meningkatnya kesejahteraan petani sebagai tujuan utama kebijakan pangan nasional. (*)

