Menurut Paris, wisuda adalah awal babak baru kehidupan. Ia menekankan bahwa adab lebih penting dari ilmu, serta mengajak lulusan INTI untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan Jeneponto.
Ia pun menyinggung pembangunan daerah, mulai dari kebutuhan anggaran infrastruktur hingga progres Stadion Turatea.
“Jangan cepat puas, dan jangan berhenti di S1. INTI tahun ini sudah punya program pascasarjana,” katanya, sembari menegaskan kebanggaannya sebagai bagian dari INTI.
“Di mana pun saya berada, saya selalu mengaku dari INTI. Saya tidak pernah malu.”
Pesan penuh makna juga datang dari Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Dr. Andi Lukman, M.Si. Ia mengawali sambutannya dengan mengirim doa untuk almarhum Dr. Ady Sumady, sosok yang dikenang berjasa bagi dunia pendidikan.
“Gelar akademik adalah buah kerja keras, sekaligus amanah,” tuturnya.
Ia mendorong lulusan untuk terus belajar dan menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.
Apresiasi tinggi ia sampaikan kepada INTI. Dari 224 perguruan tinggi, baru sekitar 130-an yang terakreditasi, dan capaian 350 mahasiswa baru menjadi bukti kepercayaan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah wisudawannya, tapi sejauh mana ia berarti bagi daerahnya,” tegasnya.
Di penghujung acara, suasana haru dan bangga berpadu. Dies Natalis ke-35 dan Wisuda ke-IV INTI Jeneponto bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penanda komitmen bersama: membangun manusia, membangun daerah, dan menyalakan cahaya ilmu dari Turatea untuk Indonesia. ( Ardhy M Basir )

