Munafri juga menyoroti dampak ekonomi yang dihasilkan dari event berskala besar ini, mulai dari sektor UMKM, kuliner, hingga perhotelan. Ia optimistis efek domino MHM akan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Untuk itu, Ia menekankan pentingnya kepemilikan sertifikat standar kebersihan dan sanitasi, khususnya bagi restoran dan rumah makan di Kota Makassar.
“Saya ingin restoran-restoran kita memperhatikan sertifikasi higienitas dan sanitasi. Jangan sampai tamu dari luar kota atau luar negeri mendapatkan kesan yang tidak baik,” pesannya.
Munafri juga mengapresiasi MHM sebagai salah satu race paling ditunggu oleh komunitas lari nasional, serta menjadi satu-satunya ajang lari di Indonesia Timur yang rutenya telah tersertifikasi PB PASI.
Ke depan, ia bercita-cita menjadikan Makassar sebagai kota tujuan utama para pelari di Indonesia, dengan penguatan event olahraga berkelanjutan. Komitmen tersebut ia teguhkan dengan menginstruksikan Dinas Pemuda dan Olahraga untuk mulai menggelar kegiatan lari rutin setiap pekan.
“Setelah Lebaran kedepan, saya minta setiap minggu start dan finish di Balai Kota. Kita tunjukkan bahwa Makassar siap menyambut para pelari,” katanya.
Terakhir, Munafri meminta agar panitia menyediakan skema pendaftaran alternatif bagi masyarakat yang kesulitan mengakses pendaftaran daring, serta membuka ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas.
“Tidak ada yang bisa menjamin suksesnya acara ini kecuali kita semua. Pemerintah, panitia, dan seluruh warga Kota Makassar,” tutupnya.
Adapun MHM 2026 dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Mei 2026 di kawasan Pantai Losari, dengan rangkaian kegiatan mulai dari Race Pack Collection, Shake Out Run, Kid Dash, hingga Race Day. Event ini diharapkan menjadi penggerak sport tourism sekaligus pengungkit ekonomi Kota Makassar. (*)

