“Menjaga integritas masing-masing personil media,” singkatnya, namun mengena. Sebab dari sanalah marwah pers dipertaruhkan.
Pandangan akademis disampaikan Prof. Muhammad Asdar, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas. Ia mengaku tertarik hadir karena usia BugisPos bukan usia biasa. “Tidak mudah sebuah organisasi bertahan hingga 27 tahun. Ini berarti dia telah menjalani sekitar 75 persen keseimbangan berusaha,” ungkapnya.
Menurutnya, dua hingga tiga tahun pertama adalah fase perjuangan, sementara di atas itu organisasi mulai menemukan ritme dan keseimbangan. Namun keseimbangan itu, tegasnya, hanya akan kokoh bila ditopang integritas. “Dengan integritas akan menumbuhkan trust di masyarakat,” tutupnya.
BugisPos memang bukan sekadar nama. Ia adalah jejak sejarah. Berdiri pada 11 Januari 1999 melalui SIUPP Nomor 199/SIUPP/Menpen/1999 dengan penerbit Yayasan Pena Rakyat, BugisPos hadir sebagai tabloid mingguan hingga 2012. Lalu ia beralih rupa menjadi BugisPos.com—sempat berganti nama, lalu kembali pada identitasnya. Sejak 19 Juli 2019, BugisPos resmi bernaung di bawah PT BugisPos Tujua Utama, menyesuaikan regulasi Dewan Pers.
Namun yang tak pernah berubah adalah semangatnya. Dengan tagline “Menulis Apa Adanya”, BugisPos konsisten mengusung muatan lokal dalam judul dan isi berita. Kata-kata seperti Matemija, Ciddako, Kodong, Macca, Pakintaki, Masumange bukan sekadar bumbu, melainkan pernyataan sikap: bahwa bahasa, budaya, dan nurani lokal layak hadir di ruang publik.
Di usia ke-27 ini, BugisPos seperti menegaskan kembali sumpah sunyinya: tetap menulis apa adanya, tetap berpihak pada kebenaran, dan tetap setia merawat tutur Sulawesi Selatan. Di tengah riuh algoritma dan kepentingan, BugisPos memilih bertahan sebagai penjaga nurani—pelan, setia, dan berintegritas. ( Ardhy M Basir )

