Separuh liriknya seakan menjelma potret hidup almarhum—tentang tubuh yang pernah kokoh, kini menua oleh waktu dan perjuangan dalam sakit, tetapi semangat yang tak pernah benar-benar padam.
Badanmu yang dulu kekar
Legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Lagu itu menjadi jembatan rasa.
Ia menghubungkan masa lalu dan masa kini, mengingatkan pada cita-cita besar yang diwariskan kakeknya, Rivai Pakkihi, dan ayahnya, Anwar Rivai Pakkihi: menjadikan INTI—yang dahulu bernama YAPTI—sebagai lembaga pendidikan terbaik dan terunggul di kawasan selatan Sulawesi Selatan. Cita-cita itu bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup yang ditempuh Ady dengan kesetiaan.
Di bait-bait terakhir, kerinduan menemukan suaranya sendiri.
Ady (Ayah), dalam hening sepi, ku rindu
Anakmu sekarang banyak menanggung beban.
Kerinduan itu kini menjadi amanah. Beban itu berubah menjadi tanggung jawab bersama—untuk melanjutkan apa yang telah dirintis, menjaga nilai yang telah ditanamkan, dan memastikan bahwa pengabdian almarhum tidak berhenti di pusara.
Hening akhirnya pecah, tetapi kenangan tetap tinggal. Dalam doa Lukman, dalam hening cipta yang dipimpin rektor, dan dalam lagu yang didendangkan dengan suara bergetar—nama Ady Sumady Anwar Rivai akan terus hidup, sebagai guru kehidupan dan penjaga mimpi pendidikan. ( Ardhy M Basir )

