Salah satu langkah konkretnya adalah peningkatan produksi biofuel berbasis kelapa sawit melalui penerapan bahan bakar solar B50.
“Sekitar 5,3 juta ton minyak sawit akan kita olah menjadi solar,” jelasnya.
Kebijakan ini menandai progres signifikan dalam pengembangan energi terbarukan.
Setelah implementasi B40 pada tahun sebelumnya, penerapan B50 diharapkan mampu menekan impor solar secara drastis dengan memaksimalkan pasokan sawit dalam negeri.
Amran menegaskan, kebijakan tersebut bukan hanya berdampak pada ketahanan energi nasional, tetapi juga kesejahteraan petani. Kenaikan permintaan sawit diyakini akan mendorong harga Crude Palm Oil (CPO).
“Dengan begitu, petani sejahtera, negara memiliki green energy, dan ketergantungan pada impor bisa ditekan. Ini langkah strategis untuk Indonesia,” katanya.
Untuk mewujudkan agenda besar tersebut, Amran menekankan pentingnya dukungan media. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan kinerja pemerintah sekaligus mengedukasi publik tentang potensi besar sektor pertanian Indonesia.
“Media tidak hanya menjadi penghubung pemerintah, tetapi juga jembatan aspirasi masyarakat. Indonesia ini besar dan kaya sumber daya alam. Mari kita kawal bersama, jangan hanya berpikir untuk hari ini, masih ada generasi penerus yang harus kita siapkan,” pungkas Amran. (*)

