Prof.Najamuddin menjelaskan, kita melihat bahasa Arab dari ayat itu, setiap orang dua ajalnya. Ajal itu sudah ditentukan dan itulah yang Allah beri tahu kepada malaikat. Hanya sekian hari, sekian minggu, sekian bulan. Dicatat juga di antaranya, umurnya.
“Jadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu ini sudah dicatat usianya. Hanya merupakan satu nikmat karena dirahasiakan. Andaikata kita diberi tahu tentang umur dan saat ajal, mungkin tidak ada lagi di tempat ini. Semua ke masjid,” ujar Guru Besar Departemen Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya Unhas tersebut, yang duduk berdampingan menantu almarhumah Prof.Dr.Ahmad Thib Raya, M.A.
Kata Prof. Najamuddin, kalau saja setiap orang sudah tahu ajalnya datang, maka tidak akan ada orang yang kuliah. Tidak ada orang yang berkumpul (mengikuti takziah) seperti ini. Semua orang akan berlomba ke masjid dan melaksanakan ibadah.
Dari ayat surah Al An’am itu diungkapkan bahwa datangnya ajal itu hanya Allah yang tahu. Jadi, misteri kematian ada dua. Ada yang diberi tahu kepada Malaikat dan ada hanya Allah yang tahu, yakni tentang saat kematian itu.
Menurut hadis Rasulullah, kata Prof.. Najamuddin, ‘siapa orang yang dipanjangkan umur dan diperbanyak rezekinya harus ada usaha. Berarti umur bisa diperpanjang. Terserah kita mau panjang umur atau tidak. Jadi, yang sudah ditentukan dan dicatat oleh Malaikat dan ada juga yang hanya Allah yang tahu dan menentukan. Maka, yang masih dalam ‘wewenang’ Malaikat itu, boleh masih ada usaha. (mda).

