PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Menginjakkan kaki di Jogja bagi Ajoeba Wartabone adalah kehormatan dan harga diri politik. Ia termasuk sosok yang mengobarkan jiwa Jogja dan spirit Republik di forum besar Parlemen Negara Indonesia Timur (NTT). Teriakan-teriakannya selalu menggema dan menggetarkan sudut-sudut ruang sidang Parlemen NIT hingga paham pada tahun berikutnya mengingatkan bahwa fraksi yang berbeda-beda agar bersatu dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dari tiga tawaran politik yang ada, Ajoeba Wartabone memilih berada pada kelompok yang menerima pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)/Negara Indonesia Serikat (NIS) dan menerima NIT sebagai media/jalan menuju NKRI,” ungkap Dr. Mukhlis PaEni pada acara bedah buku “Ajoeba Wartabone (1894-1957) SEKALI KE DJOKJA TETAP KE DJOKJA” yang diadakan di Hotel Aryaduta Makassar, Selasa (16/6/2026).
Selain Mukhlis PaEni, acara bedah buku yang dipandu Koordinator Satupena Sulawesi Selatan Rusdin Tompo itu, juga menampilkan Amanda Katili Niode, Ph.D. , Prof.Dr.Jumadi, M.Pd. (Guru Besar UNM), Dr. Surjadi Mappangara (dosen emeritus FIB Unhas), dan Eddy Thamrin (Yudi Sukatanya) yang juga penulis dan budayawan Sulsel.
Wali Kota Makassar, H. Munafri Arifuddin, S.H. berbaur bersama Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad yang juga menjabat Ketua Umum LAMAHU, mantan Rektor Unhas Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A., M. Natsir Kalla, Wakil Rektor I Unhas Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Sp.BM (K), Ph.D., mantan Sekprov Gorontalo Prof. Dr. Ir. Winarni Monoarfa, M..S., Ir. Pulu Niode selaku tuan rumah kegiatan didampingi Ny. Fatimah Kalla, para anggota Keluarga Besar Ajoeba Wartabone, para dosen dari berbagai perguruan tinggi, dan undangan yang memadati ball room hotel.
Mukhlis PaEni mengatakan, dalam suasana tegang sepanjang sidang, yang diwarnai dengan pergantian ketua parlemen/ketua sidang yang hampir tidak bisa menguasai jalannya forum, tiba-tiba suasana sidang menjadi senyap terhipnotis.
“Sekali ke Djokja, tetap ke Djokja (Eens naar Djokja Altijd naar Djokja),” teriak Ajoeba Wartabone di tengah sidang yang terbekuk sepi. Dia meneriakkan kalimat itu atas nama Rakyat Indonesia Timur dan termuat di halaman utama “Het Dagblad” edisi Rabu 14 Mei 1947.
Pemandangan politik yang terjadi pada setiap sidang parlemen NIT sejak tahun 1946-1950 sarat dengan ketegangan. Permasalahan yang sangat rumit tidak bisa disederhanakan karena banyaknya kepentingan yang harus diakomodasi dalam sistem ketatanegaraan NIT pascakemerdekaan Indonesia. Terutama, dengan adanya intervensi Belanda dalam penciptaan bentuk negara serikat yang berwujud negara boneka.
Terdapat tiga bentuk kepentingan yang menjadi tema perdebatan dalam sidang parlemen NIT. Pertama, kelompok yang menginginkan bentuk negara Republik Indonesia seperti yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedua, kelompok yang menolak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan berharap kekuatan Belanda bisa tetap eksis di Nederlands Hindia atau Indonesia. Ketiga, kelompok yang menjadi pilihan Ajoeba Wartabone, “yang menerima pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)/Negara Indonesia Serikat (NIS) dan menerima NIT sebagai media/jalan menuju NKRI”.
“Teriakan Ajoeba dalam sidang parlemen ini menjadi sebuah pernyataan politik yang sangat tegas dan mempertegas kemauan politik mayoritas di NIT, untuk bergabung dengan Republik Indonesia dan memilih NKRI sebagai bentuk negara yang akan dicapai,” Mukhlis PaEni menegaskan.
Teriakan Ajoeba Wartabone bukan tanpa godaan dan risiko. Banyak tawaran bermunculan dia terima agar membatalkan dan tidak mewujudkan teriakannya. Ia seakan berada di dalam kepungan politik kelompok federalis dan “kaki tangan” Belanda yang ketika itu masih memegang kekuasaan secara politis di luar Jawa dan Sumatra.
Teriakan “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” merupakan ledakan keputusan politik Ajoeba tentang konsep keindonesiaan dan kebangsaan. Tentang bentuk kenegaraan, kemerdekaan, kerakyatan, kebebasan dan persamaan hak dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.
Prinsip dan idealisme ini benang merahnya hampir tidak pernah putus dalam pikiran dan hati nurani Ajoeba Wartabone sejak tahun 1920-an. Keteguhan prinsip yang konsisten dipegang Ajoeba ini memberi arti penting bagi kelangsungan sidang-sidang Parlemen NIT selanjutnya. Sejak itulah nama Ajoeba Wartabone menjadi pembicaraan di Parlemen NIT.
Ketua Dewan Nasional di Gorontalo
Ajoeba Wartabone lahir di Gorontalo 11 JUni 1894, putra pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku. Antara 1903-1914, dia menjalani pendidikan ‘Europeesche Lagere School’ (ELS) – sekolah dasar pada masa Hindia Belanda, di Gorontalo dan ‘Hoofdenschool’ atau “sekolah raja” — sekolah khusus yang didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1878 untuk mendidik anak-anak kaum bangsawan atau pribumi agar bisa menjadi calon pegawai pemerintah, di Tondano.

