Oleh : Ardhy M Basir
Suasana di Kedai Ayah UQ, Jalan Boulevard, Makassar, Minggu petang (15/3/2026), terasa berbeda dari biasanya. Meja-meja panjang yang biasanya hanya dipenuhi percakapan ringan, malam itu berubah menjadi ruang pertemuan hangat para jurnalis.
Tawa, cerita lama, dan diskusi tentang masa depan profesi berbaur dalam satu suasana yang akrab.
Sekitar seratus wartawan hadir. Sebagian besar adalah wajah-wajah yang telah lama dikenal di dunia pers Sulawesi Selatan—para jurnalis senior yang pernah melewati berbagai fase perubahan media, dari era mesin ketik hingga ruang redaksi digital.
Di tengah suasana yang cair itu, Suwardi Thahir berdiri bukan sekadar sebagai tuan rumah. Wartawan senior yang kini menjabat Wakil Ketua PWI Sulsel itu memanfaatkan momen silaturahmi dan buka puasa bersama tersebut untuk menyampaikan satu pesan sederhana namun mendalam: organisasi hanya akan maju jika seluruh anggotanya berjalan bersama.
Menurutnya, kekuatan organisasi pers seperti PWI tidak lahir dari satu figur, melainkan dari kemampuan setiap anggotanya membangun kolaborasi.
“Organisasi ini besar karena kerja bersama. Jika kita saling menguatkan, potensi yang kita miliki bisa membawa PWI jauh lebih maju,” ungkapnya di hadapan para kolega yang telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik.
Tantangan Zaman yang Terus Bergerak
Bagi Suwardi, dunia jurnalistik hari ini bergerak jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Perubahan teknologi, pola konsumsi informasi masyarakat, hingga tantangan etika profesi menuntut wartawan untuk terus belajar.
Ia menekankan bahwa adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan. Wartawan harus siap memperbarui kemampuan, sementara organisasi profesi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.
Sebagai Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang terlibat dalam peningkatan kualitas jurnalis di berbagai daerah, Suwardi memahami betul pentingnya peningkatan kapasitas bagi para wartawan. Menurutnya, kualitas profesi hanya bisa dijaga melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Menuju Kontestasi Kepemimpinan
Pertemuan yang berlangsung santai itu juga memiliki makna lain. Di balik percakapan hangat para wartawan, terselip dinamika organisasi yang tengah bersiap menghadapi agenda besar: pemilihan Ketua PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031.
Suwardi menjadi figur pertama yang secara terbuka menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi tersebut. Keputusan itu bukan sekadar langkah politik organisasi, melainkan bagian dari keinginannya untuk memperkuat fondasi yang telah dibangun oleh para pemimpin sebelumnya.
Ia menyebut nama-nama tokoh yang pernah memimpin PWI Sulsel dengan penuh penghormatan. Bagi Suwardi, kemajuan organisasi hari ini adalah hasil dari kerja panjang para pendahulu.
Menurutnya, organisasi tidak perlu sibuk mempersoalkan masa lalu. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjadikan pengalaman itu sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Organisasi sebagai Rumah Bersama
Jika kelak dipercaya memimpin, Suwardi menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program yang sudah berjalan baik. Di saat yang sama, ia juga ingin mendorong lahirnya berbagai gagasan baru agar organisasi tetap relevan di tengah perubahan.
Baginya, tujuan utama organisasi bukan sekadar eksistensi, melainkan juga kesejahteraan anggotanya. PWI harus menjadi ruang yang mampu memperkuat profesionalitas wartawan sekaligus menjaga martabat profesi.
“Pada akhirnya, yang kita perjuangkan adalah kemajuan organisasi dan kesejahteraan anggota,” ujarnya.
Malam yang Menyisakan Optimisme
Menjelang malam, azan magrib telah lama berlalu. Hidangan berbuka pun sudah habis, namun percakapan para jurnalis masih terus mengalir. Cerita tentang liputan lama, kisah di lapangan, hingga diskusi masa depan media menjadi penutup pertemuan itu.
Tak ada pidato panjang, tak pula suasana formal. Hanya silaturahmi sederhana yang menghadirkan kembali semangat kebersamaan di antara para wartawan.
Dari sebuah meja buka puasa di sudut Kota Makassar, gagasan tentang kolaborasi, adaptasi, dan masa depan organisasi kembali ditegaskan: bahwa PWI Sulsel adalah rumah bersama, dan masa depannya ditentukan oleh kebersamaan para penghuninya.
