Filosofi ‘Siri na Pacce’ Jadi Inspirasi Pameran Seni Media Inklusif Pertama di Makassar

Ramzy 37 Pembaca
4 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Filosofi Siri na Pacce/Pesse bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pranata sosial asli dan puncak kebudayaan di Sulawesi Selatan yang menjadi kompas hidup masyarakatnya. Nilai luhur inilah yang diangkat dalam Workshop Incremental Art Experience: Tumbuh Bersama Seni Lewat Rasa dan Karya di Fakultas Desain dan Seni Kampus UNM Parangtambung, Makassar, Sabtu (6/6/2026).

​Kegiatan yang menjadi bagian dari program "Karya Ceria" ini menghadirkan penulis sekaligus pegiat literasi, Rusdin Tompo, sebagai pembicara utama.

​Dalam paparannya, Rusdin menekankan bahwa Siri na Pacce memiliki dimensi universal yang sangat relevan dengan kemanusiaan dan inklusivitas.

​"Nilai-nilai Siri na Pacce itu universal. Di dalamnya ada pengakuan atas persamaan derajat, hak, dan kewajiban sesama manusia, cinta kasih, keberanian membela keadilan, hingga etos kerja keras," ujar pencipta puisi Panggil Aku Daeng tersebut.

​Rusdin, yang banyak merujuk pada pemikiran akademisi dan budayawan Sulsel seperti Abu Hamid, Sugira Wahid, Rahman Arge, dan Prof. Aminuddin Salle, mengibaratkan Siri na Pacce sebagai grundnorm (norma dasar) bagi orang Sulawesi Selatan.

​"Ini adalah sikap moral yang menjaga stabilitas sosial agar tatanan pangngadakkang (Makassar) atau pangngadereng (Bugis) tetap dinamis dan taat asas. Filosofi ini mendorong solidaritas sekaligus integrasi sosial," tambah Rusdin dalam sesi yang dipandu oleh Reskyana Syam selaku moderator.

​Ruang Kolaborasi dan Seni Inklusif

​Workshop yang berlangsung selama dua hari (6–7 Juni 2026) ini terasa istimewa karena menempatkan teman-teman disabilitas sebagai seniman utama—bukan sekadar objek kegiatan.

​Penanggung Jawab Program, Muh. Firmansyah, S.Ds, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang untuk mengenalkan budaya daerah melalui karya seni yang inklusif dan aksesibel bagi semua orang.

​"Ini adalah rangkaian program Karya Ceria. Puncaknya nanti akan menampilkan karya kolaboratif dari ragam disabilitas sebagai representasi pengalaman, pemahaman, dan ekspresi mereka terhadap budaya Siri na Pacce," jelas Firmansyah.

​Sebanyak 10 seniman disabilitas Makassar terlibat aktif sebagai kolaborator dalam ruang kreatif ini, yang terdiri dari:

​2 orang Down Syndrome

​2 orang difabel netra

​1 orang penyintas psikososial

​3 orang teman Tuli (didampingi juru bahasa isyarat)

​2 orang disabilitas fisik

​Untuk memaksimalkan potensi para peserta, penyelenggara melibatkan Ridwan Mappa sebagai Konsultan Disabilitas, Rahmat Mustamin selaku kurator, serta dua mentor seni, Alif Aflah Yafie dan Ari Nugraha. Acara ini juga dihadiri oleh Nur Anisah serta para fasilitator lainnya.

​Didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan

​Sebagai pameran seni media inklusif pertama di Makassar yang menempatkan kelompok disabilitas di garda depan, program Karya Ceria ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.

​Program ini didanai oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana 2025 pada bidang Penciptaan Karya Kreatif Inovatif. Dukungan ini menjadi bukti komitmen nyata pemerintah dalam memperkuat ekosistem budaya yang inklusif dan berkelanjutan.

​Melalui ruang kolaborasi ini, diharapkan lahir representasi budaya lokal yang otentik dari perspektif disabilitas. Selain meningkatkan kapasitas dan rasa percaya diri para peserta dalam berkesenian, pameran ini juga menjadi pemantik kesadaran masyarakat luas akan pentingnya hak berekspresi dan inklusi budaya bagi semua kalangan tanpa terkecuali. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version