Melodi Iman Merawat Bumi: Kontingen Sulsel Gaungkan Ekoteologi Bebas Plastik di Pesparawi Nasional XIV

Ramzy 34 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MANOKWARI — Komitmen terhadap kelestarian bumi ditunjukkan secara nyata oleh Kontingen Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam gelaran Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 yang berlangsung di Manokwari, Papua Barat.

Wujud nyata dukungan hijau ini diperlihatkan melalui gerakan massal membawa wadah air minum sendiri (tumbler) guna menekan pemakaian botol plastik sekali pakai. Langkah preventif ini selaras dengan imbauan tegas dari panitia nasional yang mewajibkan seluruh delegasi, ofisial, dan jajaran panitia untuk meminimalkan limbah plastik.

Strategi ramah lingkungan ini sengaja digalakkan demi membendung lonjakan volume sampah plastik, mengingat ajang akbar Pesparawi kali ini dihadiri oleh tak kurang dari 8.000 peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air.

Sekretaris Panitia Pemberangkatan Kontingen Pesparawi Sulsel, Stevi Margareth, menegaskan bahwa membawa tumbler adalah aksi kecil bin sederhana yang memiliki dampak masif bagi masa depan bumi kita.

“Pesparawi ini esensinya jauh melampaui panggung kompetisi dan perebutan juara. Ini adalah momentum menumbuhkan cinta pada sesama dan semesta. Oleh sebab itu, kami mengetuk hati seluruh peserta untuk disiplin membawa tumbler pribadi,” tutur Stevi saat ditemui di Manokwari, Rabu, 17 Juni 2026.

Sosok yang juga mengabdi sebagai ASN pada Bimas Kristen Kanwil Kemenag Sulsel ini menjelaskan bahwa gerakan diet plastik ini sangat senapas dengan konsep ekoteologi. Gagasan tersebut saat ini tengah menjadi salah satu poros program prioritas Kementerian Agama demi mendorong umat beragama aktif menjaga kelestarian alam.

Melalui lensa ekoteologi, merawat alam semesta dinilai sebagai manifestasi nyata dari ibadah dan doktrin keagamaan. Pendekatan religius ini menegaskan bahwa menjaga ekosistem bukan sekadar kewajiban sosial kemasyarakatan, melainkan panggilan moral serta spiritual yang mendalam.

Kementerian Agama pun tak henti-hentinya meniupkan roh kesadaran ekologis ini ke tengah-tengah umat. Setiap perhelatan hari besar maupun agenda keagamaan kini dituntut mengadopsi konsep 'green event', yang berfokus pada pengurangan sampah plastik serta pemanfaatan energi secara bijak.

“Menjaga keasrian bumi merupakan refleksi rasa syukur kita kepada Sang Pencipta. Kami menaruh harapan besar agar para peserta Pesparawi bisa menjadi motor penggerak dan teladan dalam gaya hidup hijau ini,” tambah Stevi.

Sebagai informasi, Pesparawi Nasional XIV yang dihelat di Manokwari, Papua Barat, tidak hanya berdiri sebagai panggung megah festival paduan suara gerejawi terbesar di Indonesia. Event ini juga bertransformasi menjadi ruang edukasi massal untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan.

Melalui aksi nyata menolak plastik sekali pakai, setiap peserta diharapkan menorehkan kontribusi positif bagi kesucian tanah, sungai, dan lautan Papua. Sebuah langkah kecil yang diyakini bakal melahirkan perubahan raksasa jika digerakkan bersama oleh ribuan manusia yang hadir di sana. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version