PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Sore itu angin bertiup pelan di tepian Danau GTC Makassar. Permukaan air tampak tenang, memantulkan warna langit yang perlahan berubah keemasan. Di salah satu sudut tepi danau, tiga pria duduk santai menghadap air, masing-masing menggenggam kelapa muda yang masih segar dari batoknya.
Mereka adalah Ardhy M Basir, Arwan Awing, dan Rahman Rumaday — tiga sahabat yang sore itu memilih cara sederhana untuk menikmati waktu: duduk, bercerita, dan membiarkan hari berjalan tanpa tergesa.
Tak ada rapat, tak ada tenggat, tak ada hiruk pikuk kota yang biasanya menyesakkan. Yang ada hanya suara air yang sesekali beriak, tawa kecil yang pecah di sela percakapan, dan sensasi manis dingin air kelapa yang seakan menyiram lelah setelah hari yang panjang.
“Kadang yang kita butuh cuma ini,” ujar salah satu dari mereka sambil mengangkat buah kelapa muda, dagingnya masih utuh, mengapung di antara bongkahan es. Bukan tentang minumannya semata, tetapi tentang ruang untuk berhenti sejenak.
Di tepi danau itu, obrolan mengalir bebas. Dari cerita masa lalu, kenangan pertemanan, hingga hal-hal ringan yang justru terasa paling menenangkan. Sesekali mereka terdiam, menikmati pemandangan. Senja di GTC memang punya caranya sendiri untuk membuat orang lebih banyak merenung daripada berbicara.
Kelapa muda yang mereka minum seolah menjadi simbol kesederhanaan: alami, jujur, dan menyegarkan. Di tengah dunia yang serba cepat, momen seperti ini terasa mewah — bukan karena harganya, tetapi karena waktu yang benar-benar dimiliki.
Orang-orang lalu lalang di sekitar danau, sebagian berolahraga, sebagian hanya berjalan santai. Namun bagi Ardhy, Arwan, dan Rahman, sore itu seperti ruang kecil yang hanya milik mereka bertiga. Tempat di mana persahabatan tak perlu formalitas, cukup kebersamaan.
Matahari perlahan turun, cahaya jingga memudar, dan lampu-lampu di sekitar kawasan mulai menyala. Gelas kelapa muda mereka hampir kosong, tapi cerita belum benar-benar usai. Karena sesungguhnya, yang mereka nikmati bukan hanya minuman segar di tangan, melainkan rasa hidup yang kembali pelan-pelan terasa.
Di tepi Danau GTC, di antara senja dan angin yang ramah, mereka menemukan satu hal sederhana yang sering terlupa:
bahwa bahagia kadang sesederhana duduk bersama, berbagi cerita, dan meneguk kelapa muda sampai hari benar-benar berganti malam.
Kalau mau dibuat lebih puitis, lebih jurnalistik keras, atau ditambah dialog langsung, tinggal bilang saja. (Ardhy M Basir)
