PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Budaya bukan sekadar warisan masa lalu yang statis untuk dikagumi, melainkan jalan pembuka bagi kreativitas, jejaring, hingga penguatan finansial masyarakat. Semangat inilah yang melandasi diskusi hangat dalam ruang berbagi (sharing time) bertajuk "Pasar, Ide Budaya" dengan tema "Rawat Budayanya, Tumbuhkan Finansialnya".
Acara kolaboratif yang diinisiasi oleh DPW Al-Ittihadiyah Sulawesi Selatan bersama Komunitas Anak Pelangi (K-apel) ini digelar di Kafe Baca, Jalan Adhyaksa, Makassar, pada Ahad (31/5/2026). Diskusi yang dipandu oleh perupa Ishakim selaku moderator ini menghadirkan tiga narasumber lintas sektor: Yeni Rahman, S.Si., M.Pd (Anggota DPRD Provinsi Sulsel), Yudhistira Sukatanya (Budayawan), dan Munatsir, ST (Ketua DPC PPJI Kota Makassar).
Budaya Sebagai Nilai Tertinggi dan Penyelamat Ekonomi
Dalam sambutannya, Rahman Rumaday mengungkapkan bahwa tema ini sengaja diangkat karena sangat dekat dengan realitas sehari-hari. Menurutnya, pasar dan budaya adalah dua hal yang saling mengikat.
"Budaya adalah nilai tertinggi di masyarakat setelah agama. 'Rawat Budayanya, Tumbuhkan Finansialnya' bermakna bahwa budaya mampu menyatukan penganutnya sekaligus menggerakkan roda ekonomi," tutur Rahman.
Ishakim selaku moderator juga mengamini hal tersebut. Pasca-pandemi global, sektor UMKM menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi di berbagai belahan dunia. Namun, tantangan besar kerap dihadapi oleh para pelaku usaha lokal. "Pasar itu ibarat makhluk hidup. Kecil dimanja, kalau sudah besar bisa jadi monster jika tidak dikelola dengan bijak," seloroh Ishakim memicu pemikiran.
Kehilangan Nilai Historis Kuliner dan Pentingnya "Mengunci Proses"
Ketua DPC Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Kota Makassar, Munatsir, ST, menyoroti fenomena hilangnya nilai sejarah pada kuliner tradisional Makassar. Menurutnya, banyak orang saat ini hanya fokus pada rasa enak sebuah kue, tetapi melupakan filosofi di baliknya.
"Kue-kue tradisional kita kini kehilangan nilai historisnya. Umpamanya, apa sebenarnya makna jalankote? Kenapa bentuknya harus setengah lingkaran? Semua itu ada ceritanya dan harus digali kembali," ujar Munatsir, yang juga menginformasikan adanya lomba kue tradisional di Jakarta pada Juni mendatang.
Munatsir juga mengkritik kelemahan mendasar pelaku UMKM kuliner, yaitu ketidakmampuan dalam "mengunci proses"—atau menjaga konsistensi resep. "Kalau takaran gulanya dua sendok, jangan dikurangi atau dilebihkan. Komitmen itu yang menjaga kualitas," tegasnya.
Ia pun mengusulkan adanya Local Hero dan kawasan kuliner terpadu yang memuaskan wisatawan, serta menyarankan kepada legislatif agar program studi banding atau study tour melibatkan langsung para pelaku kuliner khas Makassar. "Agar saat pulang, mereka membawa inspirasi konkret, bukan sekadar cerita dan foto," tambahnya.
Sentuhan AI: Menembus Pasar Global Tanpa Hambatan Bahasa
Menanggapi tantangan promosi di era modern, Budayawan Yudhistira Sukatanya menawarkan solusi visioner dengan memanfaatkan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan.
Menurut Yudhistira, AI dapat menjadi jembatan ampuh untuk mengenalkan kekayaan budaya dan kuliner Sulawesi Selatan ke kancah internasional.
"Dalam promosi kuliner dan budaya, kita bisa meminta bantuan AI. Misalnya, pembuatan konten promosi tentang Tari Pakarena, pembuatan perahu Pinisi, hingga filosofi coto dan jalankote bisa dikemas jauh lebih menarik. Dengan AI, konten tersebut dapat diterjemahkan dan disesuaikan ke berbagai bahasa di dunia, sehingga mampu menembus pasar internasional tanpa hambatan bahasa," urai Yudhistira.
Penggunaan AI dinilai mampu mendongkrak daya pikat visual dan narasi (storytelling) kuliner lokal agar bernilai jual tinggi di mata dunia.
Edukasi, Konsistensi, dan Peran Ibu
Sementara itu, Anggota DPRD Sulsel, Yeni Rahman, S.Si., M.Pd, menekankan bahwa budaya tidak boleh terjebak pada simbol ritual semata, melainkan tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.
"Budaya itu adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Kalau mau tampil menarik dan berhasil, kita harus konsisten minimal 3 bulan tanpa berubah, dan itu butuh kesabaran," jelas Yeni.
Wakil Ketua Bapemperda DPRD Sulsel ini juga menyoroti salah kaprah perayaan Hari Kebudayaan. Menurutnya, esensi kebudayaan bukan sekadar mewajibkan anak-anak memakai baju bodo ke sekolah. Lebih dari itu, kearifan lokal dan filosofi setiap makanan khas Makassar harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan.
Yeni juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam pelestarian ini. "Budaya harus dimulai dari ibu. Saat ini kita mulai kehilangan tradisi seperti Sinrili dan sepak takraw. Di sisi lain, sekarang justru ramai budaya pantun, padahal pantun bukan budaya asli kita (Sulsel)," pungkasnya.
Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, membuka ruang kolaborasi baru bagi para pelaku UMKM, budayawan, dan pemangku kebijakan untuk bersama-sama merawat tradisi sekaligus menumbuhkan kesejahteraan finansial masyarakat Makassar. (Ardhy M Basir)
