Menjaga Asa di Pesisir Selatan: INTI Jeneponto Hidupkan Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro Lewat Program CHSE

Ramzy 300 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO - Pagi itu, angin laut berembus pelan menyusuri pesisir Lingkungan Monro-Monro, Kelurahan Monro-Monro, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Di antara akar-akar mangrove yang menjuntai kokoh menahan abrasi, sekelompok warga tampak sibuk membersihkan area sekitar jalur titian kayu. Senyum mereka merekah—bukan sekadar karena wisatawan mulai berdatangan kembali, tetapi karena harapan sedang tumbuh bersama pohon-pohon bakau yang mereka jaga.

Harapan itu diperkuat oleh kehadiran Institut Turatea Indonesia (INTI) Jeneponto yang terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan potensi desa melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB). Kali ini, INTI melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kampung Wisata dengan mengusung tema Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) di Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro.

Program ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia hadir sebagai bentuk pendampingan nyata bagi masyarakat pesisir agar mampu mengelola destinasi wisata secara profesional, aman, bersih, sehat, serta berkelanjutan secara lingkungan.

Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro selama ini dikenal memiliki lanskap pesisir yang unik. Hamparan mangrove yang hijau membentuk lorong-lorong alami, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus belajar tentang ekosistem pesisir. Namun, potensi besar itu sempat meredup ketika pandemi melanda dan membatasi aktivitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata.

Seiring dengan upaya pemulihan, pemerintah mengeluarkan panduan wisata berbasis CHSE yang mengacu pada standar ISO 9024:2021. Pedoman tersebut kini menjadi rujukan penting dalam pengelolaan destinasi wisata, termasuk di Monro-Monro. Melalui pendampingan INTI, konsep CHSE diterjemahkan dalam tindakan konkret: penyediaan sarana kebersihan, edukasi kesehatan bagi pelaku wisata, peningkatan standar keselamatan pengunjung, hingga penguatan kesadaran lingkungan.

Koordinator pelaksana PDB, Dr. Fahrisal Husain, SE., M.Si., menegaskan bahwa Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menurutnya, pengelolaan yang terstruktur dan berstandar akan memberikan dampak jangka panjang, tidak hanya pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga pada pola pikir dan kemandirian ekonomi warga.

“Pendampingan ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi tentang bagaimana masyarakat mampu menjadi tuan rumah di kampungnya sendiri, mengelola potensi yang ada dengan standar yang baik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program PDB yang menjadi bagian dari pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat periode 2023–2028 itu telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Warga merasakan adanya peningkatan angka kunjungan wisata sejak tim INTI melakukan pendampingan. Jalur tracking mangrove semakin tertata, spot-spot foto diperbaiki, dan promosi mulai digencarkan melalui berbagai kanal digital.

Bagi masyarakat Monro-Monro, mangrove bukan hanya deretan pohon di tepi laut. Ia adalah benteng alami dari abrasi, sumber penghidupan, sekaligus identitas kampung. Kini, dengan sentuhan edukasi dan penguatan kapasitas dari INTI, mangrove juga menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi.

Di tengah riak ombak yang tak pernah berhenti, Kampung Wisata Mangrove Monro-Monro perlahan menegaskan diri sebagai destinasi pesisir yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga tertata dan berdaya. Dari pesisir selatan Jeneponto, cerita tentang kebersamaan, komitmen, dan keberlanjutan itu terus tumbuh—setegar akar mangrove yang mencengkeram tanah, menjaga asa masyarakatnya. (Ardhy M Basir)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version