Menjaga Tenun Kebangsaan: Suara PSMTI di Balik Riuh Polemik Paskibraka

Ramzy 39 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - ​Di tengah riuhnya ruang digital dan perbincangan publik mengenai polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), sebuah pesan menyejukkan datang dari Indonesia Timur. Ketika perdebatan di media sosial mulai bergeser ke arah yang sensitif, imbauan untuk kepala dingin justru disuarakan demi menjaga tenun persatuan bangsa.

​Ariella Hana Sinjaya, Dewan Pakar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Selatan sekaligus Wakil Bendahara Umum PSMTI Pusat, mengajak semua pihak untuk menarik napas dalam-dalam. Mewakili Ketua PSMTI Sulsel, Thiawudy Wikarso, ia meminta masyarakat tidak menggiring masalah prosedural ini ke dalam pusaran isu rasisme maupun diskriminasi etnis.

​"Saya atas nama PSMTI mengimbau seluruh masyarakat, organisasi, dan seluruh netizen di manapun berada untuk menghentikan isu rasisme ataupun diskriminasi. Kita semua adalah warga negara Indonesia dan sesama saudara tanpa memandang suku apa pun," ujar Ariella dengan nada tegas namun teduh.

​Melampaui Sekat Suku dan Etnis

​Bagi Ariella, merawat Indonesia adalah tugas merawat keberagaman. Di mata PSMTI, seluruh masyarakat Indonesia merupakan bagian dari bentang bangsa yang sama. Karena itu, media sosial seharusnya menjadi ruang diskusi yang bijak, bukan tempat menyemai asumsi yang memecah belah.

​Ariella menegaskan bahwa masyarakat Tionghoa Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terkait proses seleksi Paskibraka yang sempat memicu perdebatan, ia memandang bahwa solusinya adalah transparansi dan kepatuhan pada aturan, bukan sentimen kelompok.

​"Suku Tionghoa Indonesia adalah bagian dari NKRI. Tentunya kami berharap setiap seleksi, baik Paskibraka maupun seleksi lainnya, dilaksanakan sesuai prosedur dan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta," urainya.

​Melihat Fakta, Bukan Asumsi

​Sebagai bagian dari komunitas Tionghoa, Ariella mengaku prihatin melihat bagaimana sebuah dinamika kompetisi bisa dengan cepat ditarik menjadi narasi diskriminasi etnis di ruang publik. Ia sendiri secara objektif menilai tidak ada unsur diskriminasi dalam kasus ini. Baginya, setiap persoalan bangsa harus diletakkan pada porsi yang tepat: berdasarkan fakta dan data, bukan asumsi liar.

​"Kami sangat menyayangkan ketika isu etnis kemudian diangkat dan berkembang menjadi narasi diskriminasi maupun rasisme. Saya sendiri orang Tionghoa, tetapi saya yakin dalam kasus ini tidak ada diskriminasi," cetusnya, mencoba meluruskan persepsi yang telanjur bias di jagat maya.

​Ruang Pembelajaran Bersama

​Pada akhirnya, polemik Paskibraka ini diharapkan tidak meninggalkan luka sosial, melainkan menjadi cermin besar bagi seluruh elemen bangsa. Ariella berharap publik bisa menahan diri, menjaga situasi tetap kondusif, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan yang kontraproduktif bagi persatuan.

​"Mari kita bergotong royong dan bersama-sama membangun NKRI. Apa yang terjadi dalam polemik Paskibraka ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jangan terlalu cepat menggunakan isu diskriminasi atau rasisme sebelum seluruh fakta terungkap," pungkasnya penuh harap.

​Di ujung hari, merah putih yang berkibar di tangan para Paskibraka adalah lambang milik bersama—sebuah pengingat bahwa di bawah bendera yang sama, semua anak bangsa berhak maju atas dasar kemampuan dan berdiri setara sebagai saudara. (Ardhy M Basir)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version