Catatan M. Dahlan Abubakar
Ini benar-benar peristiwa yang unik dan pertama kali dalam sejarah aktivitas jurnalistik saya. Berbincang-bincang di tengah temaramnya ruang kendali utama pada sebuah kapal penumpang PT Pelni, KM Tilongkabila dalam pelayaran Bima-Labuan Baju-Makassar, 28-29 Maret 2026 dengan penumpang sekitar 1.300 penumpang. Seluruh tiket terjual habis, termasuk yang “non seat” (tidak bertempat tidur). Bahkan ada yang tidak memperoleh tiket dan harus membeli tiket di atas kapal karena urusannya sangat mendesak.
Pertemuan dan bincang-bincang di tengah remang-remang ruang kemudi KM Tilongkabila tidak saja unik, namun membuat saya sangat penasaran. Pertama, sosok lawar berbincang saja, sudah sering berkomunikasi di media sosial “Facebook”. Sosok inilah yang selalu mengabarkan posisi KM Tilongkabila, kapal PT Pelni yang melayani dan melayari 11 pelabuhan mulai dari Benoa (Bali), Lembar (Lombok), Bima (Sumbawa), Labuan Bajo (Flores), Makassar (Sulawesi Selaran), Baubau-Raha-Kendari (Sulawesi Tenggara), Luwuk (Sulawesi Tengah), Gorontalo, dan Bitung (Sulawesi Utara). Jarak tersebut ditempuh total hampir 5 hari atau bersih selama 118 jam dengan jarak tempuh 1.442,27 mil (2.307,632 km).
Kedua, saya ingin sekali bergambar bareng dengan sosok “selegram” Km Tilongkabila ini untuk kepentingan tulisan ini. Apa boleh buat, saya terpaksa mencolek foto Ifonk yang ada di akun “facebook”-nya. Tentu saja keinginan saya itu tidak terpenuh karena lampu anjungan dalam keadaan dipadamkan untuk kepentingan teknis navigasi kapal. Boleh juga jika mau ambil foto di lorong menuju anjungan, tetapi tidak begitu keren.
Ketika hendak mengambil gambar Srikandi KM Tilongkabila Nur Azizah Muhidin di anjungan, ruang kemudi kapal, seluruh lampu dalam keadaan padam. Yang tampak ‘menyala’ hanyalah perlengkapan navigasi kapal yang memancarkan tulisan dan grafik digital. Lampu memang harus dalam keadaan “off” untuk memudahkan kru kapal dapat membaca dengan jelas dan tepat indikator yang ada di perlengkapan navigasi.
“Nanti kita foto setelah kapal sandar, Pak Aji,” terdengar suara Nur Azizah tidak berapa lama setelah kami tiba di anjungan.
“Ok, siap. Biar saya lihat-lihat situasi dari anjungan ini dulu,” jawab saya. Azizah kemudian meninggalkan saya di anjungan bersamaan dengan ada sosok yang tiba-tiba mendekat.
“Oh..Pak Aji,” terdengar suara, yang rasanya begitu akrab di telinga saya, tetapi wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali sesuai dengan foto yang selalu muncul di media sosial “facebook”-nya.
“Mau minum kopi atau teh, Pak Aji,” pria itu yang tidak lain adalah Ifonk, panggilan akrab pria kelahiran Jeneponto ini menawarkan.
“Boleh, kopi saja,” jawab saya.
Saya sering berkomunikasi dengan dia melalui akun facebook-nya setelah melaporkan dari kiri atau kanan anjungan KM Tilongkabila saat kapal akan merapat atau meninggalkan satu pelabuhan. Informasinya sangat membantu calon penumpang karena menyebut posisi kapal dengan jumlah penumpang sekaligus informasi cuaca selama pelayaran. Makanya, saya anggap Ifonk termasuk salah seorang “selegram” KM Tilongkabila, ha..ha..
Setelah selesai menyeduhkan kopi, Ifonk mengajak saya duduk di salah satu kursi dan ada meja kecil di sebelah kiri ruang kemudi. Kami berhadapan, tentu saja tidak bisa saling mengenali wajah masing-masing. Saya mengenakan pet kerucut warna abu-abu dengan baju kemeja lengan pendek kotak-kotak abu-abu kombinasi hitam muda. Saya jelas tidak bisa melihat Ifonk memakai baju warna apa.
Di tengah temaram ruang kemudi kapal, kami berbincang-bincang banyak hal dari ujung pukul ujung. Ternyata Ifonk tidak sendiri di KM Tilongkabila. Selain dia masih ada kakak dan seorang iparnya.
“Jadi saya ini boleh dikatakan keluarga Pelni,” ucapnya dalam pelayaran yang sempat saya tengok sebelumnya berada di posisi sudah siap melintas di antara Pulau Tanekeke dengan daratan Takalar, tepat di ujung barat selatan Pulau Sulawesi.
Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk Ifonk bertanya tentang situasi pelajar mahasiswa Bima yang merupakan mayoritas penumpang KM Tilongkabila trayek Makassar-Labuan Bajo-Bima dan sebaliknya pada setiap pelayaran kapal. Termasuk juga saya kisahkan tentang awal mula berkenalan dengan istri sekarang dengan segala kisah yang menyertainya.
“Akhirnya, orang Bima dan Makassar banyak yang menikah, ya,” potong Ifonk setelah mendengar cerita saya yang menyunting perempuan Bugis Wajo.
“Iya, ada beberapa di antara kami itu memilih menikah dengan orang Bugis-Makassar. Habis, kalau pulang juga sudah tidak punya calon. Sudah diambil orang atau menikah lebih dulu,” ungkap saya membuat Ifonk terkekeh.
“Ya, zaman itu, kan belum ada alat komunikasi. Daripada menunggu lama-lama tidak ada kepastian, kalau ada yang lamar, orang tuanya bilang, ambil saja, ” Ifonk menimpali.
Saya juga menjelaskan pengalaman seorang teman mahasiswa adal Bima. Suatu saat dia menerima surat dari pacarnya di kampung yang mengabarkan kalau dia akan segera dilamar dan menikah. Perempuan itu pun mengirim surat ke Ujungpandang, ke teman yang waktu itu berkuliah di IAIN (UIN) Alauddin. Dia membaca surat tersebut pada Sabtu (malam) Minggu. Di dalam suratnya, tertulis bahwa pada hari yang bersamaan dengan pacarnya yang di Ujungpandang sedang membaca surat itu, rupanya di kampung, eks pacarnya sedang di pelaminan, duduk bersanding dengan pria pilihan orang tuanya.
Mendengar isi surat tersebut memicu inspirasi saya untuk membuat sebuah cerita pendek. Cerpen berjudul “Malam Minggu” dimuat di rubrik “Cerita Pendek” harian “Pedoman Rakyat” edisi 6 Maret 1976.
“Jadi sempat menulis buku awal kisahnya itu?,” tanya Ifonk.
“Iya, ada buku saya “Lorong Waktu” yang saya serahkan ke Capt.Subair, tetapi tidak mencantumkan kisah teman itu,” jawab saya.
“Zaman sekarang kan mereka tidak tahu seperti apa perjuangan orang-orang dulu mencari ilmu,” katanya lagi.
“Saya senang dengar cerita orang-orang lama, Pak Aji,” sambung Ifonk setelah mendengar pengalaman seorang teman Profesor yang ketika masih di Bima pernah menjadi kusir benhur. Saat pagi belum sempat cuci muka, seorang temannya minta diantar ke suatu tempat sekitar 3 km dari desanya. Saat pagi-pagi ketika mendekati kudanya, satu tendangan penghela benhur itu melenyapkan satu biji giginya. Bibirnya pun sobek. Lantaran Mantri Kesehatan kala itu belum profesional, jahitan pada bibirnya, menyisakan pemandangan yang berbeda dengan bentuk bibitnya yang normal.
Ifonk juga menceritakan kakeknya yang dulu pernah naik perahu layar ke Tanjung Pinang dan Jakarta, tanpa kompas sama sekali. Orang zaman dulu memanfaatkan rasi bintang di langit sebagai petunjuk arah. Ada rasi bintang tertentu yang selalu mereka jadikan sebagai pedoman pelayaran.
Yang menarik dari bincang-bincang dengan Ifonk adalah dia pernah berkenalan dengan salah seorang gadis pelajar asal Bima yang belajar di Makassar. Dia bahkan sudah berkomunikasi dengan orang tua si perempuan tersebut dan disetujui. Namun saat diinformasikan kepada orang tuanya di Jeneponto, ternyata mengandaskan keinginan Ifonk mempersunting gadis Bima tersebut.
“Tidak usah jauh-jauh dari kampung. Di sini saja,” orang tuanya berdalih saat mendengar keinginan Ifonk.
Ternyata beberapa saat kemudian, Ifonk akhirnya duduk bersanding dengan gadis asal kampung halamannya sendiri di Kecamatan Tamalate Kabupaten Jeneponto. Kisah ini menutup sesi bincang-bincang kami sembari menunggu KM Tilongkabila merapat di Pangkalan Soekarno-Hatta Makassar pada pukul 23.00 Wita, Ahad (29/3/2026) malam.
Selamat berlayar, Daeng Ifonk. Tetap berkabar dari Anjungan KM Tilongkabila buat para (calon) penumpang setia. (*)
