Oleh: YMT. Sjahrir Bintamsi
NUSANTARA sejatinya bukan sekadar bentangan geografis yang membujur dari Sabang hingga Merauke, atau dari Miangas sampai Pulau Rote. Lebih dari itu, Nusantara adalah sebuah Rumah Besar Bersama—sebuah payung agung yang menaungi jutaan jiwa dengan keanekaragaman suku, bahasa daerah, adat istiadat, agama, serta khazanah budaya yang hidup berdampingan secara harmonis di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Makna di balik filosofi “Rumah Besar Bersama” ini sangatlah mendalam. Layaknya sebuah hunian yang didirikan atas dasar cinta, dirawat dengan penuh tanggung jawab, dan diwariskan kepada anak cucu, Indonesia wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, adil, dan sejahtera bagi setiap insan di dalamnya tanpa sekat perbedaan. Di dalam rumah ini, seluruh warga negara memegang hak yang setara untuk bertumbuh, berkarya, serta menorehkan kontribusi terbaiknya demi kejayaan bangsa.
Keberagaman etnis dan budaya yang dimiliki Indonesia bukanlah sebuah celah pemisah, melainkan modalitas kekuatan raksasa yang harus dijaga secara kolektif. Spirit “Bhinneka Tunggal Ika” senantiasa mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah pemantik perpecahan, melainkan jembatan untuk saling mengenal, menghormati, dan mengokohkan ikatan persaudaraan kebangsaan. Dari rahim pluralisme inilah lahir kekayaan nilai, kearifan lokal, serta kebudayaan luhur yang membuat Indonesia dikagumi di panggung dunia.
Arsitektur rumah-rumah adat yang berdiri kokoh di seantero negeri menjadi representasi visual dari identitas dan legacy kebijaksanaan para leluhur. Tiap sudut bangunan tradisional tersebut menyimpan rajutan filosofi, tatanan sosial, dan pandangan hidup yang mengajarkan keselarasan antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta. Warisan kultural ini tidak boleh sekadar menjadi benda museum atau dokumen sejarah, melainkan harus diaktifkan sebagai sumber inspirasi dalam membentuk peradaban modern yang berkarakter.
Di era yang penuh dengan turbulensi global, pergeseran sosial, serta akselerasi teknologi yang masif, relevansi pemikiran Nusantara sebagai “Rumah Besar Bersama” justru semakin krusial untuk digaungkan. Napas persatuan, tradisi gotong royong, moderasi, dan empati sosial harus tetap menjadi pilar utama dalam mempercepat roda pembangunan, mempertebal ketahanan nasional, serta mengalirkan kesejahteraan yang merata hingga ke beranda terdepan republik.
Oleh karena itu, pemerintah pusat, otoritas daerah, pemuka agama, tokoh adat, akademisi, dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA), generasi muda, hingga seluruh lapisan masyarakat memikul tanggung jawab kolektif untuk merawat rumah ini. Tidak ada satu golongan pun yang mampu memajukan Indonesia secara ego sektoral. Akselerasi kemajuan bangsa hanya bisa digapai melalui kerja sama yang sinergis, saling menghargai, dan komitmen kebersamaan yang tulus.
