Mohon Pengemudi Taksi Bandara Bima ‘Ditatar’ Santun

Ramzy 14 Pembaca
5 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, BIMA - Wartawan senior dan Tokoh Pers Nasional asal Sulawesi Selatan, M. Dahlan Abubakar mendapat perlakuan kurang enak dari para pengemudi taksi Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Kamis (18/6/2026) petang.

Pasalnya, insiden ini terjadi ketika adiknya di Kota Bima menjemput di halaman bandara. Para pengemudi taksi itu mengetahui kalau sang adik sering mengantar calon penumpang sebagai pengemudi grab. Namun, tidak pernah menjemput penumpang menggunakan aplikasi grab karena yang dijemput adalah keluarga sendiri. Bahkan, aplikasinya dia matikan karena akan menjemput kakak atau keluarga sendiri.
Meskipun diberi tahu bahwa yang dijemput itu adalah kakaknya sendiri, pengemudi itu tidak ngotot. Mereka bergeming dan tetap menahan mobil yang hendak ditumpangi Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel ini hendak bergerak.

Yang tidak etis, mereka berlagak arogan. Meminta identitas adik dan kakaknya. Padahal, memperlihatkan identitas pribadi kepada yang tidak berhak dan berkepentingan merupakan pelanggaran hukum. Lantaran tidak ingin ribut, KTP pun diperlihatkan.

“Loh.. ini namanya berbeda. Alamatnya juga berbeda,” kata salah seorang pengemudi yang berkulit gelap.
Adiknya pun menyebutkan, namanya yang tertera di KTP tanpa nama orang tua, sedangkan kakak menggunakan nama orang tua.

“Alamatnya jelas berbeda. Saya tinggal di Makassar, adik tinggal di Bima,” Dahlan berusaja menjelaskan.
Karena mereka tetap bertahan, Dahlan pun memperlihatkan kartu wartawan utama, meskipun mereka bukan pihak yang pantas diperlihatkan.

“Saya berharap dengan melihat kartu itu akan melepas saya pergi,” kata Dahlan kepada media ini.

“Wah..ini bagus jadi bahan berita,” sambung wartawan senior Sulawesi Selatan ini.
“Silakan diberitakan,” jawabnya arogan dan bodoh.
Begitu mendengar tantangan pengemudi taksi itu, Dahlan merasa kasihan juga. Pasalnya, kalau insiden ini viral di media, kemudian ditingkahi terjangan media sosial, jelas akan berdampak buruk bagi eksistensi mereka di bandara tersebut.

“Namun sebagai proses pembelajaran, biar tidak arogan lagi ada baiknya,” kata Dahlan yang sudah menyebarkan informasi perlakuan kurang nyaman ini pada sejumlah akun whatsapp Bima.
Jumat pagi, Dahlan ditelepon oleh salah seorang keluarga yang bertugas di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima yang menyayangkan kejadian ini.
“Mengapa Paman tidak menelepon saya,” katanya.
“Saya kira masih bertugas di Labuan Bajo,” jawab Dahlan.
Salah seorang pengguna media sosial menyayangkan kejadian tersebut dan meminta pihak Koperasi Taksi Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima untuk membuat regulasi mengenai operasional angkutan ini.

Menurut Dahlan, mereka mendengar, katanya, saya memesan grab.
“Saya langsung membantah. Bagaimana mungkin saya memegang grab kalau sudah menelepon adik kandung sendiri,” Dahlan menentang.
Informasi yang diperoleh media ini, insiden serupa juga pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Adiknya itu menjemput keluarga istrinya yang hendak diantar ke Dompu. Saat tiba di halaman bandara terjadi perdebatan serupa.

“Saya tidak masalah, silakan ambil dan tanya dengan calon penumpangnya,” kata adiknya.
Keluarga istrinya itu yang kebetulan karyawan salah satu kantor di Dompu tidak kalah ‘galak’-nya.

“Kalian siapa? Saya tidak kenal kalian. Saya tidak yakin apakah saya akan aman sampai di tujuan dibandingkan jika saya diantar oleh keluarga sendiri,” katanya dengan tegas yang membuat pengemudi taksi itu kemudian menyerah.

Dahlan menyarankan, sebaiknya dilakukan komunikasi yang santun dan baik jika menemukan pengemudi yang dikenal sebagai kendaraan online menjemput di bandara. Sebab tidak mungkin sebagai pengemudi online itu menjemput di bandara, kalau bukan keluarganya sendiri. Apalagi harus diantar ke tujuan yang jaraknya 50 km dari bandara. Dan tidak mungkin menggunakan kendaraan taksi bandara yang tentu saja tarifnya mahal.

“Saya sudah sering dijemput adik jika pulang ke Bima, baik menggunakan pesawat atau pun kapal laut. Tidak ada masalah,” kata Dahlan yang mengharapkan agar pihak Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima memantau tingkah laku para pengemudi taksi itu jika sedang berkomunikasi dengan para penumpang yang tiba di bandara itu.

“Ulah para sopir taksi tersebut bisa merusak citra Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima di mata para pendatang yang hendak menggunakan taksi bandara,” kuncinya. (*).

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version