Oleh: Oswar Mungkasa (PNS dan Penulis)
BAGI banyak orang, pergantian tahun menjadi saat untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus menata harapan untuk masa yang akan datang. Kita menghitung waktu yang telah berlalu, mengenang berbagai peristiwa, dan menyusun rencana untuk hari-hari berikutnya.
Sebagai umat Islam, kita mengenal Tahun Baru Hijriah yang ditandai dengan datangnya 1 Muharram. Berbeda dengan sekadar pergantian angka dalam kalender, Tahun Baru Hijriah berakar pada peristiwa hijrah—sebuah peristiwa yang bermakna menandai keberanian untuk meninggalkan keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Karena itu, Muharram dapat dimaknai lebih dari sekadar penanda bertambahnya waktu. Tetapi juga menghadirkan kesempatan tahunan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, meninjau kembali perjalanan hidup, dan memperbarui kesungguhan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun pertumbuhan itu tidak berhenti pada diri sendiri. Kebaikan yang tumbuh dalam diri semestinya tercermin dalam hubungan kita dengan sesama, dalam kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan dalam sumbangan kita bagi kehidupan bersama. Di situlah Muharram menemukan maknanya sebagai momentum tahunan untuk berbenah diri dan menghadirkan kebaikan.
Meninjau Perjalanan, Menumbuhkan Diri
Dalam keseharian, kita sering lebih sibuk menjalani kegiatan daripada meninjau kembali perjalanan yang sedang ditempuh. Keseharian dipenuhi urusan pekerjaan, urusan keluarga, tanggung jawab sosial, dan berbagai capaian yang ingin dijangkau. Tanpa disadari, satu tahun kembali berlalu.
Padahal, setiap perjalanan sesekali memerlukan jeda. Bukan untuk berhenti melangkah, melainkan untuk memastikan bahwa arah yang ditempuh masih sesuai dengan nilai dan tujuan yang kita yakini.
Muharram menjadi salah satu jeda tersebut. Kehadirannya setiap tahun mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya untuk dijalani, tetapi juga untuk ditinjau secara berkala. Muharram mengajak kita melihat kembali kebiasaan yang terbentuk, keputusan yang diambil, serta perubahan yang terjadi dalam diri selama setahun terakhir.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar. Apakah kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab dibandingkan tahun sebelumnya? Apakah kualitas ibadah dan hubungan kita dengan Allah semakin baik? Apakah hubungan kita dengan keluarga dan sesama turut membaik?
Pertanyaan ini tidak selalu nyaman. Namun justru dari sinilah proses berbenah diri dimulai. Sebab pertumbuhan manusia tidak otomatis terjadi seiring bertambahnya usia. Namun membutuhkan kesadaran untuk melihat diri secara jujur dan kemauan untuk memperbaiki kekurangan yang ada.
Dalam semangat ini, Muharram bukan sekadar penanda waktu yang berlalu, melainkan pengingat bahwa setiap tahun seharusnya membawa kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.
Menghadirkan Kebaikan dalam Kehidupan Bersama
Berbenah diri tidak berhenti pada diri sendiri. Kebaikan yang tumbuh dalam diri perlu hadir dalam kehidupan bersama. Kejujuran, misalnya, bukan hanya kualitas pribadi, tetapi juga landasan kepercayaan dalam keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat. Demikian pula kepedulian, tanggung jawab, kesabaran, dan integritas pada akhirnya semuanya menemukan makna yang lebih utuh ketika diwujudkan dalam hubungan dengan sesama.
Karena itu, Muharram tidak hanya mengajak kita bertanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang dampak kehadiran kita bagi orang lain. Sejauh mana kita menjadi bagian dari jalan keluar masalah di lingkungan sekitar? Seberapa besar manfaat yang dirasakan keluarga, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat dari keberadaan kita?
Kehidupan pada dasarnya tidak dijalani sendirian. Kita berada dalam jejaring sosial yang saling terhubung. Kebaikan seseorang dapat meluas melampaui dirinya, sebagaimana kelalaian dan sikap abai juga dapat membawa dampak yang lebih luas.
Dengan demikian, semangat hijrah menemukan maknanya yang utuh bahwa kita tidak hanya meninggalkan kebiasaan yang kurang baik dalam diri, tetapi juga memperkuat kesungguhan hati untuk menghadirkan lebih banyak manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menjadikan Muharram sebagai Titik Berangkat
Pada akhirnya, makna Muharram tidak terletak pada pergantian angka dalam penanggalan, melainkan pada kesempatan yang diberikannya untuk memulai kembali. Setiap tahun kehadirannya sebagai pengingat bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk memperbaiki diri, memperbarui niat, dan melanjutkan perjalanan dengan arah yang lebih baik.
Akhirnya, yang terpenting bukanlah berapa tahun yang telah berlalu, melainkan pribadi seperti apa yang sedang kita tumbuhkan dan kebaikan apa yang sedang kita hadirkan di sepanjang perjalanan itu. (*)

