Piala Dunia 2026: Zovinha, Sang Bintang Tanjung Verde

Ramzy
Ramzy 36 Pembaca
12 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M.Dahlan Abubakar

Mestinya Spanyol membuat Cape Verde (Tanjung Verde) babak belur dalam pertandingan perdana Grup H pada tanggal 15 Juni 2026 dini hari di Stadion Atlanta, Georgia. Gempuran Spanyol yang mendominasi 62% jalannya pertandingan memang mengepung kotak 16 pertahanan Tanjung Verde secara bergelombang. Delapan kali tembakan akurat dan terarah pemain Spanyol menyasar gawang Tanjung Verde yang dikawal Zovinha. Namun apa yang terjadi, tidak satu pun bola dengan intensitas tendangan yang penuh tenaga itu, hanya lumpuh di tangan Zovinha.

Satu tendangan yang menurut pandangan penonton seharusnya terkonversi menjadi gol, yakni saat si kulit bundar akan melesat beberapa sentimeter di bawah mistar gawang. Apa yang terjadi, Zovinha secara refleks mampu menepis bola yang meluncur bagai peluru itu lewat di atas mistar. Gol gagal. Dahsyat dan luar biasa.

Delapan penyelamatan gemilang yang sangat mengagumkan itu, tidak heran mengantar Zovinha terpilih sebagai “the best player of the match” pada dinihari itu. Kiper berusia 40 tahun ini benar-benar telah menjadi pahlawan bagi timnya dari kekalahan. Tidak heran di kubu Spanyol wajah-wajah sendu dan kecewa yang luar biasa meninggalkan lapangan stadion berkapasitas 75.000 penonton itu. Karena tim yang mereka anggap anak bawang tersebut ternyata tidak mudah ditaklukkan, meskipun mereka menguasai pertandingan secara signifikan.

Saya menyaksikan pertandingan yang berakhir menjelang subuh waktu Indonesia Tengah itu. Saya hanya ingin memastikan, berapa gol Spanyol sarangkan ke jala Tanjung Verde. Namun dugaan saya ternyata semua meleset. Tanjung Verde ternyata tidak seasing namanya dalam hajat sepak bola dunia. Negara kecil berpendudukan sekitar 500 ribu jiwa ini datang membuat sejarah, meskipun mungkin mereka akan tumbang juga atas tim-tim favorit yang sudah mengukir nama dari Piala Dunia ke Piala Dunia.

Begitu peluit akhir berbunyi di Stadion Atlanta yang diresmikan pada tahun 2017 dan dan disesaki sekitar 50.000 pasang mata itu, kamera bergeser ke sang bintang subuh itu. Siapa lagi kalau bukan kiper Tanjung Verde, Vozinha. Titik-titik bening menyungai pada wajah pemain yang boleh terbilang ‘gaek’ ini. Itu wajar saja, timnya berhasil bermain imbang 0-0 melawan tim yang digadang-gadang sebagai favorit juara Piala Dunia, Spanyol, tahun 2026 ini.

Tribun stadion bergemuruh oleh teriakan ribuan pendukung Tanjung Verde, yang tiada henti menyemangati tim mereka tanpa henti lelah selama 90 menit pertandingan yang berlangsung dalam tensi yang boleh disebut tidak seimbang itu. Layar kaca menawarkan pemandangan, betapa tidak seimbangnya pertandingan ini. Tim yang pernah jadi kampiun Piala Dunia dan Piala Eropa terus menghajar tim pendatang baru dari Benua Afrika.
Tetapi penonton disajikan pemandangan yang sangat spektakuler dan dahsyat.

Baca juga :  Kapolda Sulsel Lepas Bus Mudik Gratis Pemprov, 35 Armada Layani Delapan Rute

Betapa gempuran demi gempuran Spanyol itu mentah di tangan seorang kiper yang sangat percaya diri.
Mereka merayakan hasil imbang itu dengan berpelukan dan menari. Hari itu, seolah milik mereka. Hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan persepakbolaan tim pendatang baru Piala Dunia 2026 itu.

Di lapangan, para pemain berlari saling mendekat dalam kegembiraan. Bahkan penonton yang tidak memihak Tanjung Verde atau pun Spanyol turut terbawa suasana. Saat pertandingan usai, banyak dari mereka ikut merayakan. Betul-betul sepak bola melenyapkan sekat pendukung dan lebih melihat kepada sebuah prestasi dan penampilan.

Melawan Spanyol yang notabene merupakan juara Eropa, kiper veteran Vozinha menampilkan performa terbaik sepanjang hidupnya. Dia berhasil menjaga gawangnya tidak kebobolan sehingga menuai hasil paling bersejarah dalam sejarah sepak bola negaranya.
"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya," kata Vozinha setelah dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.

"Sayangnya mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya dalam hidup saya.
"Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir karena visa. Karena biaya yang harus dibayar untuk visa, kami tidak berhasil mendapatkannya tepat waktu. Saya ingin dia ada di sini."

Ia menambahkan: "Senjata terbaik kami adalah persatuan kami. Terlepas dari pemain yang datang hari ini, atau pemain yang berusia 10 atau 15 tahun, cara kami memperlakukan keluarga adalah kekuatan terbesar kami.

"Semua orang berpikir kami datang ke sini hanya untuk menikmati Piala Dunia, tetapi tidak. Kami tahu ada tim-tim yang selalu kami hormati, karena ini pertama kalinya bagi kami, tetapi kami di sini untuk bersaing dan kami di sini untuk berjuang demi negara kami."
'Ini sudah menjadi mimpi sejak saya kecil'. Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca

Lahir dengan nama Josimar Dias, kiper Tanjung Verde itu telah menghabiskan seluruh kariernya mengejar impian tampil di Piala Dunia. Ketika akhirnya terwujud, momen itu datang dengan catatan sejarah.

Sepanjang karier profesionalnya, Vozinha pernah memperkuat beberapa klub di Afrika dan Eropa. Beberapa klub yang pernah dibelanya antara lain: Batuque FC (Cape Verde), FC Arouca (Portugal), Progresso do Sambizanga (Angola), Gil Vicente (Portugal)
Cape Umoya United (Afrika Selatan), Chaves (Portugal).

Meski tidak pernah membela klub-klub elite Eropa, Vozinha dikenal sebagai penjaga gawang yang konsisten dan memiliki kepemimpinan kuat di dalam tim. Pengalaman bermain di berbagai negara membuatnya memiliki mentalitas yang tangguh ketika menghadapi pertandingan besar.

Baca juga :  Bupati Akhiri Safari Ramadan di Sinjai Utara

Pilar Timnas Cape Verde

Selain berkarier di level klub, nama Vozinha sangat identik dengan Timnas Cape Verde. Ia telah mengoleksi puluhan penampilan internasional dan menjadi bagian penting dari perkembangan sepak bola negaranya dalam satu dekade terakhir. Sebagai pemain senior, ia kerap dipercaya mengenakan ban kapten dan menjadi pemimpin di ruang ganti. Pengalamannya sangat berharga bagi para pemain muda Cape Verde yang baru merasakan atmosfer turnamen besar.

Pada usia 40 tahun dan 12 hari, ia menjadi pemain tertua yang tampil dalam pertandingan debut Piala Dunia suatu negara, melampaui rekor yang dibuat Eloy Room dari Curacao.
Faktanya, hanya Essam El Hadary dari Mesir yang lebih tua saat menjalani debut Piala Dunia. Ini merupakan pencapaian luar biasa dalam karier yang ditandai dengan ketekunan.

"Saya mulai bermain sepak bola profesional ketika berusia 25 tahun, pada 2012. Itu terlambat bagi orang seperti saya," kata Vozinha.
"Saya sempat berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi kemudian saya melanjutkan karena mimpi ini.

"Performa ini adalah untuk semua orang. Saya adalah pemain terbaik pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan saya, karena tanpa mereka, tidak ada yang mungkin. Dan saya akan terus bekerja untuk tim dan untuk rakyat."

Tanjung Verde terletak hampir 600 km di lepas pantai barat Afrika, kepulauan yang indah namun terisolasi. Peluang bagi pemain sepak bola muda terbatas.
Tumbuh di Mindelo, Vozinha menghadapi tantangan sejak awal.
"Saya adalah salah satu kiper terbaik di pulau saya, tetapi saya bertubuh kecil," kenangnya.

"Bahkan ketika saya tampil baik, saya tidak dipilih karena tinggi badan saya."
Seperti banyak pemain sebelumnya, ia akhirnya pergi ke Portugal, negara yang pernah menjajah Tanjung Verde, untuk mencari peluang. Keputusan itu menandai awal karier yang membawanya ke Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.

Kini Vozinha yang dilahirkan di Mendelo di Pulau Sao Vicente Tanjung Verde, 3 Juni 1986 ini, bermain untuk klub divisi kedua Portugal, Chaves.
Bahkan nama Vozinha menyimpan bagian dari sejarah sepak bola.

Nama ditolak

Ayahnya yang seorang militer berharap menamainya "Valdano", mengikuti legenda Argentina dan Real Madrid, Jorge Valdano, tetapi otoritas registrasi Tanjung Verde menolak dengan alasan berbahasa asing. Sebagai gantinya, ia dinamai Josimar, mengikuti bek Brasil yang mencuri perhatian di Piala Dunia 1986. Nama itu akhirnya melengket pada nama aslinya.

Beberapa dekade kemudian, di panggung Piala Dunia, Vozinha telah menciptakan sejarahnya sendiri. 'Vozinha membuat pertandingan ini menyala'.
Didukung oleh ribuan pendukung Tanjung Verde, Vozinha berdiri kokoh menghadapi serangan tanpa henti Spanyol.

Baca juga :  Menapak Tangga Curam Inklusivitas di Hari Disabilitas Internasional Makassar

Dia melakukan delapan penyelamatan krusial dari 23 tembakan terarah ke gawangnya. Satu-satunya kiper berusia di atas 40 tahun yang pernah mencatatkan penyelamatan lebih banyak dalam satu pertandingan Piala Dunia adalah Pat Jennings dengan 10 penyelamatan pada ulang tahunnya yang ke-41 saat Irlandia Utara melawan Brasil pada 1986.

Setiap penyelamatan Vozinha disambut gegap gempita para pendukung Tanjung Verde di Atlanta, seolah-seolah tim tersebut telah mencetak gol.
Di luar stadion, ia juga menjadi sensasi viral. Jumlah pengikutnya di Instagram meningkat dari 50.000 menjadi lebih dari 1,5 juta setelah CazeTV—saluran YouTube yang memiliki hak siar Piala Dunia di Brasil—mengajak penonton mereka untuk mengikutinya.
"Gila," ujar Vozinha kepada wartawan saat diberi tahu tentang hal tersebut sebagaimana dikutip dari BBC.
"Dia benar-benar luar biasa," kata Nevin kepada BBC.

"Dia melakukannya pada usia 40 tahun. Semua kamera tertuju padanya, semua pemainnya menunjuk kepadanya. Ini momen yang indah.
"Tanjung Verde menghabiskan sebagian besar pertandingan di dalam kotak penalti mereka sendiri. Ketika mereka menyerang balik, mereka melakukannya dengan berani dan dalam jumlah banyak.

"Untuk melakukan itu dan mempertahankan tingkat konsentrasi tersebut, sebuah tim tidak bisa melakukannya jika mereka hanyalah kumpulan individu. Sebuah tim hanya bisa melakukannya jika bermain sebagai sebuah tim."

Mantan pemain timnas Inggris, Lee Dixon, menambahkan di ITV: "Benar-benar fantastis. Performa yang brilian. Mereka lebih pantas mendapatkan satu poin dibanding apa pun. Spanyol hampir tidak pantas mendapatkannya. Mereka meninggalkan lapangan dengan kecewa, tetapi malam ini adalah milik Tanjung Verde.

"Performa luar biasa dari setiap pemain, bek tengah, bek sayap, pria itu di sana [Vozinha] menangis. Saya hampir ikut menangis."

Bagi sebuah negara dengan populasi lebih dari setengah juta jiwa, yang merupakan negara terkecil ketiga yang pernah lolos ke Piala Dunia, itu adalah hasil yang sangat berarti.
Di tribun, para pendukung mereka menyamai intensitas tersebut. Berpakaian biru dan mengibarkan bendera merah, putih, dan biru, mereka bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan, menyemangati para pemain melalui setiap momen sulit.
Saat peluit akhir berbunyi, para penonton netral telah terpikat.

Kisah Tanjung Verde telah menjadi kisah semua orang. Dari sebuah negara yang tidak dikenal sama sekali. Namun namanya muncul setelah lolos kualifikasi Piala Dunia Zona Afrika. Tanjung Verde, sebuah negara kepulauan kecil yang awalnya tak banyak dikenal, kini telah memikat dunia karena sepak bola. (*)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!