PEDOMANRAKYAT, SELAYAR - Satu tim yang terdiri atas tiga orang Guru Besar dan sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin, 12-13 Juni 2026 menggelar pengabdian masyarakat di SMP Negeri 1 Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
Ketiga guru besar yang ambil bagian dalam kegiatan itu masing-masing Prof.Dr. Hj Munira Hasjim, S.S., M.Hum, Prof.Dr. Kaharuddin, M.Hum, dan Prof. Drs. Burhanuddin Arafah, M.Hum, Ph.D. Para guru besar itu juga melibat sejumlah mahasiswa yakni, Taqdir, Ayumi Luthfina N, Musliyana, Dody Kurniawan Asman, dan Juliana Rahman.
Kegiatan ini berjudul Hilirisasi hasil riset sikap Bahasa Indonesia melalui Pelatihan Ientegrasi Kesantunan Berbahasa dan sikap berbahasa ke dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia tingkat SMP Kelurahan Benteng Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
Objek kegiatan ini adalah para guru anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia tingkat SMP Kabupaten Kepulauan Selayar. Sasaran langsung program adalah guru Bahasa Indonesia SMP yang tergabung dalam forum MGMP. Sasaran tidak langsung program adalah peserta didik SMP di Kabupaten Kepulauan Selayar yang akan memperoleh dampak dari pembelajaran Bahasa Indonesia.
Ketua Tim Unhas Prof.Dr.Hj Munira Hasjim, S.S., M.Hum menjelaskan, mitra kegiatan pengabdian ini adalah MGMP Bahasa Indonesia tingkat SMP Kabupaten Kepulauan Selayar, yaitu forum profesional guru mata pelajaran yang berfungsi sebagai wadah peningkatan kompetensi, pertukaran pengalaman, dan pengembangan mutu pembelajaran.
“Dalam konteks mata pelajaran Bahasa Indonesia, MGMP memegang peranan penting karena guru Bahasa Indonesia tidak hanya bertanggung jawab pada pencapaian kompetensi kebahasaan siswa, tetapi juga pada pembinaan literasi, etika berbahasa, kemampuan berkomunikasi santun, dan penguatan karakter peserta didik melalui praktik berbahasa yang baik, benar, dan sesuai konteks, “ ujar Guru Besar Unhas yang kini menjabat Kepala UPT Perpustakaan Unhas itu kepada media ini Ahad (14/6/2026).
Dia mengemukakan, kabupaten Kepulauan Selayar sebagai wilayah kepulauan memiliki karakter sosial-budaya yang khas, yang menuntut guru Bahasa Indonesia untuk mengelola pembelajaran secara adaptif, kontekstual, dan sensitif terhadap praktik tutur siswa. Di tengah perkembangan media digital, perubahan gaya komunikasi remaja, dan meningkatnya penggunaan ragam bahasa nonformal dalam interaksi sehari-hari, guru menghadapi tantangan untuk menanamkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia sekaligus mengembangkan kebiasaan berbahasa yang santun dalam lingkungan pendidikan. Pada titik inilah hasil penelitian tentang sikap bahasa terhadap penggunaan Bahasa Indonesia menjadi relevan untuk dihilirisasi.
Berdasarkan kebutuhan mitra, guru-guru MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kepulauan Selayar masih memerlukan penguatan dalam memaknai sikap bahasa sebagai bagian integral dari pembelajaran.
“Selama ini, pembelajaran Bahasa Indonesia lebih sering berfokus pada aspek keterampilan berbahasa dan pemenuhan target kurikuler, sementara pembinaan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia dan kesantunan berbahasa belum selalu diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan dan praktik pembelajaran. Akibatnya, nilai-nilai kebahasaan yang sesungguhnya penting bagi pembentukan karakter siswa belum sepenuhnya hadir secara eksplisit dalam kegiatan belajar mengajar, “ujar Prof.Munira Hasjim
Pada bagian lain penjelasannya, Munira Hasjim menyebutkan, mengacu pada analisis situasi, permasalahan prioritas mitra, khususnya guru-guru Bahasa Indonesia yang ada di Kabupaten Kepulauan Selayar, dapat dirumuskan dalam beberapa poin penting yang memerlukan perhatian serius. Dalam konteks ini, pemahaman yang mendalam tentang sikap bahasa dan kesantunan berbahasa menjadi sangat krusial. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada kualitas pembelajaran, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa dalam berkomunikasi.
Pemahaman yang kuat mengenai konsep-konsep ini akan memungkinkan guru untuk mengajarkan siswa bagaimana menggunakan bahasa dengan baik dan benar, serta menghargai norma-norma kesantunan yang berlaku dalam masyarakat.
Pertama, masih perlunya penguatan pemahaman guru MGMP tentang konsep sikap bahasa dan kesantunan berbahasa serta relevansinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Sikap bahasa mencakup cara pandang dan nilai-nilai yang dipegang oleh individu dalam menggunakan bahasa. Misalnya, seorang guru yang memahami pentingnya kesantunan berbahasa akan lebih mampu mengajarkan siswa untuk berkomunikasi dengan cara yang menghormati lawan bicara. Dalam konteks ini, guru perlu diberikan pelatihan yang mendalam mengenai bagaimana sikap bahasa dan kesantunan berbahasa dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum. Hal ini mencakup pemahaman tentang ragam bahasa yang sesuai dengan situasi, penggunaan bahasa yang tepat dalam konteks formal dan informal, serta pentingnya etika berbahasa dalam interaksi sosial.
Kedua, masih terbatasnya kemampuan guru dalam mengintegrasikan sikap bahasa dan kesantunan berbahasa ke dalam tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen pembelajaran Bahasa Indonesia. Pengintegrasian ini sangat penting untuk memastikan bahwa siswa tidak hanya belajar bahasa dari segi tata bahasa dan kosakata, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan bahasa tersebut dalam konteks yang tepat. Contohnya, dalam mengajarkan materi tentang teks debat, guru dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan siswa tentang bagaimana berargumentasi dengan sopan dan menghargai pendapat orang lain.
Namun, tanpa adanya pemahaman yang kuat dari guru tentang bagaimana melakukan hal ini, pembelajaran yang diharapkan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, diperlukan workshop atau seminar yang fokus pada pengembangan keterampilan guru dalam mengintegrasikan sikap dan kesantunan berbahasa ini ke dalam setiap aspek pembelajaran.
Selanjutnya, belum tersedianya bahan pelatihan, panduan praktis, dan contoh perangkat ajar berbasis hasil riset yang dapat digunakan bersama oleh anggota MGMP menjadi masalah yang signifikan. Tanpa adanya sumber daya yang memadai, guru akan kesulitan untuk menemukan cara yang efektif untuk mengajarkan sikap bahasa dan kesantunan berbahasa. Misalnya, jika ada panduan praktis yang menunjukkan bagaimana menyusun rencana pelajaran yang mengintegrasikan kedua aspek ini, maka guru akan lebih mudah untuk menerapkannya di kelas. Oleh karena itu, penting bagi pihak terkait untuk mengembangkan dan menyediakan bahan-bahan yang dapat diakses oleh semua anggota MGMP, sehingga mereka dapat saling berbagi dan belajar dari satu sama lain. (mda).
