“Ini merupakan pembinaan teritorial kepada warga yang ada di sekitar pos Muakan, dan harus dilestarikan serta dijaga agar tidak lenyap termakan kemajuan zaman,” ucapnya.
Dikatakannya ibu Dusti Emi, kerajinan tangan Cupai adalah tas tradisional yang dibuat dari tali nilon yang diukur dan digunting sesuai yang diinginkan lalu dianyam, sedangkan Tanggui dibuat dari daun yang dianyam, disusun berlapis lalu dijahit menggunakan benang.
“Kami sangat senang kepada bapak Satgas yang mau belajar dan membantu kami, serta mempromosikan dan lestarikan kerajinan tangan khususnya warga Dayak yang ada di perbatasan,” pungkasnya.
Prada Wally beserta dua rekannya mengemukakan, kerajinan tangan warga Dayak ini memang unik dan menarik harus di lestarikan “Kami membantu sekaligus belajar cara menganyam pembuatan Cupai dan Tanggui,” imbuhnya.
Keaneka ragam budaya di Indonesia memang sangat banyak dan harus di lestarikan, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan selalu mengedepankan protokol kesehatan. (*)