Dalam kesempatan lain, Dirjen Zudan berseloroh bahwa aparat Dukcapil semuanya memiliki pabrik pil sabar. “Walau dibully oleh masyarakat kami tetap bekerja dengan penuh semangat,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, agar bisa menggerakkan aparaturnya di 514 kabupaten/kota, 34 provinsi serta 7.400 kecamatan, selain menggunakan pendekatan transformasi, orkestrasi dan mobilisasi, Dukcapil harus membangun kebersamaan melalui budaya kerja atau working culture.
“Agar terwujud kekompakan kita membangun tahapan Dukcapil BISA. Ini merupakan satu semangat membangun kebersamaan. BISA adalah singkatan, B: Berkarya, I: Inovasi dan Inisiatif, S: Sabar namun penuh semangat, dan A: Adaptif dan amanah. BISA adalah budaya kerja yang Dukcapil bangun agar memiliki semangat yang sama di seluruh Indonesia,” jelas Dirjen Zudan.
Menurutnya, Negara itu dibentuk untuk membahagiakan masyarakat. Begitu juga Dukcapil ada itu pun untuk masyarakat yang berada di mana pun tanpa mengenal diskriminasi. Pihaknya menyadari wilayah Indonesia yang sangat luas ini memerlukan ASN peyelenggara negara yang tangguh.
Maka kami wajib melakukan layanan yang kami sebut jemput bola dengan mendatangi penduduk Indonesia yang belum tersentuh layanan administrasi kependudukan di mana pun mereka berada apa pun keadaan mereka,” kata Dirjen Dukcapil.
Untuk itu, Dirjen Zudan berpesan agar para punggawa Dukcapil jangan cepat mengeluh atau menyerah. “Tidak mungkin Allah SWT kalah dengan pabrik gembok yang menjual gembok lengkap dengan kuncinya. Begitu juga Allah sudah menyiapkan solusi saat memberikan masalah. Mengeluh, itu bukan jiwa miltansi yang kita bangun di Dukcapil,” pungkas Dirjen Zudan. (*)