Betapa tidak, tamu tersebut, mengaku punya utang yang sudah sangat lama, karena dia sendiri sudah lupa, kapan. Bahkan pihak pemberi utang juga sudah meninggal sejak tahun 2011, tapi tamu ini masih ingat dan bermaksud membayarnya siang itu.
Mengaku Guru, berasal dari Onto Sapo, bernama Abd. Karim Yambe. Terakhir mengajar di SD Bonto Numpa. Siang itu ke Rujab Wabup diantar oleh menantunya.
“Saya mau minta tolong, saya mau bayar utang. Jumlahnya 900.000 rupiah,” ungkapnya membuka pembicaraan.
“Saya berutang pada koperasi yang ditangani oleh Bapakmu (Ompo Husain, orang tua Kandung Saiful Arif, red),” lanjutnya.
“Waktunya memang sudah lama, Bapakmu juga sudah meninggal. Tapi utang tersebut saya catat. Saya mau bayar pada Patta Bone, tetapi saya dapat kabar, bahwa Patta Bone juga sudah meninggal. Karena itu, bantu saya, terima uang ini, agar utang saya lunas, dan tidak ditagih di akhirat,” papar Karim sembari menghitung uang lembaran seratus ribu, membuat Wabup Saiful Arif menyesal, dalam batin.
“Karim ini manusia langka,” batin Saiful. “Baik, pak, saya terima uang ini, nanti saya teruskan ke LVRI, atau mungkin PWRI, karena dua organisasi itu yang kemungkinannya berhubungan dengan utang ini,” ujarnya.
Wabup Saiful Arif mengembalikan dua lembar uang merah, lembaran seratus ribu kepada tamunya, Abd. Karim, seraya menyatakan, utang bapak sudah lunas, namun terimalah ini, untuk ongkos pulang, yang dijawab sang tamu “terima kasih”. (sa)