Melalui LPDP, Tim Peneliti Kembangkan Limbah Bulu Ayam Jadi Material Baru Ramah Lingkungan

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR -- Kebutuhan masyarakat akan material bangunan, salah satunya panel dinding, sangat besar. Namun, harganya cukup tinggi dan sebagian bahan bakunya dapat mempengaruhi lingkungan.

Untuk itu, tim dosen peneliti, yang diketuai Dr. Ir. H. Ansarullah, ST, MT (Dosen Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia, Makassar) dengan anggotanya, Dr. Ir. H. Mukhtar Thahir Syarkawi MT, ATU (Dosen Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia, Makassar) dan Dr. Muhammad Tayeb Mustamin, ST, MT, (Dosen Fakultas Teknik Universitas Khairun, Ternate) melalui pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, melakukan penelitian dengan memanfaatkan limbah bulu ayam dibentuk menjadi panel dinding yang ramah lingkungan.

[caption id="attachment_26366" align="alignnone" width="847"] Limbah bulu ayam yang telah diproses menjadi panel dinding ramah lingkungan. (foto : ist)[/caption]

Dr. Ansarullah menjelaskan, penelitian yang dilakukan merupakan penelitian lanjutan dari penelitian awal mengenai potensi limbah bulu ayam sebagai bahan baku panel akustik. Penelitian lanjutan ini merupakan penelitian laboratorium. Proses pencetakan panel bulu ayam sebagai material dinding dilakukan di Laboratorium Sains dan Teknologi Arsitektur dan pengujian kuat tekan dilakukan di Laboratorium Struktur Bahan Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia. Penelitian ini menitikberatkan pada pengukuran objektif, dan teknik perhitungan kuantitatif matematik.

Ketua tim peneliti menguraikan, kegiatannya diawali survey dan kerjasama dengan Penyalur Ayam Pedaging (P2P) Makassar selaku mitra untuk menyiapkan limbah bulu ayam sebagai bahan baku penelitian.

Selanjutnya, limbah bulu ayam tersebut dibersihkan --karena bila lewat 2 jam akan menimbulkan bau yang kurang sedap. Proses pencucian itu ditambahkan dengan cairan pengharum dan melakukan pembilasan beberapa kali. Bulu ayam yang sudah bersih, lalu diberi zat pemutih dan direndam dengan formalin sekitar 2 hari untuk menghilangkan kuman atau bakteri yang masih melekat di bulu ayam, guna menghindari penyakit yang akan berimbas pada lingkungan.

Baca juga :  Wakil Wali Kota Makassar Dukung Turnamen Sepak Bola Mini Monsa Cup V 2025

Setelah proses ini, dilakukan pengeringan langsung dengan memanfaatkan sinar matahari --tergantung kondisi cuaca. Setelah kering, bulu tersebut dicacah sampai halus dengan mesin pencacah yang dibuat sendiri dan juga merupakan bagian dari kegiatan LPDP ini. Pencacahan ini dilakukan untuk memudahkan proses cetakan panel sesuai ukuran yang telah ditentukan.

Dr. Ansarullah mengakui, sebelumnya telah dilakukan beberapa kali percobayaan dengan bulu ayam yang tidak dicacah. Percobaan itupun mengalami kegagalan. Karena karakteristik bulu ayam memiliki tangkai elastis namun keras. Pada saat diproses dan dikeringkan, tangkai bulu ayam tersebut akan bermunculan, sehingga permukaan panel menjadi kasar.

Lebih jauh dipaparkan, dalam kegiatan ini melibatkan 7 orang mahasiswa, dengan ketua mahasiswa Andi Ulmu Faradilah. Dalam pelaksanaan proses, tim dosen dan mahasiswa membentuk panel sesuai ukuran yang dinginkan dengan menakar banyaknya bulu ayam yang digunakan ditambah dengan beberapa bahan pembentuk lainnya. Setelah kering, didapatkanlah panel sesuai yang diharapkan.

Kedepannya kami akan menyesuaikan hasil penelitian ini dengan ukuran panel yang ada dipasaran. Namun sebelumnya, akan dilakukan penelitian sistem struktur, bentangan dan kemampuan material menahan beban. "Ini untuk pengembangan penelitian kami lebih lanjut," imbuhnya.

Tujuan penelitian, kata Dr. Ansarullah, yaitu bagaimana limbah bulu ayam dibentuk menjadi panel sekaligus menyelamatkan lingkungan. Artinya, limbah-limbah bulu ayam yang selama ini tidak termanfaatkan dapat menjadi bahan yang bernilai ekonomis karena bisa menjadi sekat ruangan yang ramah lingkungan.

"Jadi, panel-panel yang telah dihasilkan ini, dengan ukuran yang berhasil dibentuk, dapat disambung menjadi panel dinding sesuai dengan kebutuhan luas ruangan. Kemudian, material panel masih terlihat cukup bagus tanpa perubahan warna dan bau sehingga dapat direkomendasikan sebagai material baru yang ramah lingkungan di bidang arsitektur karena keawetan bahan cukup terjaga dan stabil," tutupnya. (zl)

Baca juga :  Gubernur Sampaikan Kontribusi Masyarakat Tionghoa di Munas PSMTI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Jumat Berkah, Polwan Polres Soppeng Berbagi

PEDOMAN RAKYAT, SOPPENG – Sebagai bentuk kepedulian sosial serta upaya mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat ,Polisi Wanita...

Harmoni Tanpa Sekat: Simfoni Persaudaraan SMANSA 81–82 dalam Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Alumni lintas generasi SMA Negeri 1 (SMANSA) Makassar kembali mengukuhkan eksistensi persaudaraan lintas iman melalui...

Telepon Subuh Mentan Amran Berujung Gagalnya Penyelundupan Bawang Bombay Ilegal 133,5 Ton di Semarang

PEDOMANRAKYAT, SEMARANG – Telepon subuh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sekitar pukul 05.20 WIB menjadi awal gagalnya...

Mentan Amran Sidak 133,5 ton Bawang Bombay Selundupan Berpenyakit: Tidak Ada Ampun, Usut Sampai Akar

PEDOMANRAKYAT, SEMARANG — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak akan memberi toleransi terhadap praktik impor ilegal...