“Membedah” Diksi “Hajar” pada Sidang Ferdy Sambo

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

 

*Catatan M. Dahlan Abubakar*
*(Dosen FIB Universitas Hasanuddin)*

Ada perdebatan yang menarik berkaitan pemaknaan satu diksi yang muncul dalam persidangan kasus pembunuhan berencana yang didakwakan kepada Ferdy Sambo dan kawan-kawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan beberapa hari lalu.

Pengacara Ferdy Sambo, Ferdy Diansyah menyoal kata “hajar” yang diucapkan oleh Ferdy Sambo ketika memerintahkan kepada Barada Richard Eleizer agar segera “membuat perhitungan” dengan Brigadir Yoshua.

Pengacara memaknai kata “hajar” itu bukan bermaksud menembak dan menghabisi Brigadir Yoshua, melainkan yang lain. Pemaknaan kata “hajar” oleh pengacara menjadi sangat mengambang dan tidak menawarkan jawaban yang konkret.

Dan, saya yakin, sang pengacara memaknai frasa itu karena tidak merujuk kepada kajian wacana yang memang merupakan kompetensi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya.

Di dalam kajian analisis wacana, kajian terhadap penggunaan diksi seperti ini dilakukan. Meskipun analisis wacana sendiri merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu bahasa yang lebih besar daripada kalimat, namun Gamson dan Modigliani (Eriyanto, 2001) berpendapat, kajian wacana menganalisis penggunaan bahasa dengan memanfaatkan perangkat pembingkaian (framing devices), khususnya ‘catchphrases’ (frasa).

Dan, saya meminjam elemen frasa untuk menganalisis unit diksi (hajar) yang digunakan dalam catatan ini.

Diksi “hajar” dapat dianalisis dengan menggunakan teori Gamson, yakni mengidentifikasi penggunaan piranti kebahasaan diksi dalam teks wacana. Dalam hal ini kita menganalisis penggunaan frasa ‘hajar’ dalam wacana eksepsi yang disampaikan oleh pengacara Ferdy Sambo dalam sidang pembunuhan berencana tersebut.

Dalam analisis wacana memang banyak bergantung pada interpretasi terhadap konteks dan pengetahuan yang luas. Semua unsur yang terkandung di dalam wacana merupakan suatu rangkaian. Pada dasarnya, bahan-bahan yang diperlukan merupakan sesuatu yang benar-benar terjadi yang diwujudkan dalam situasi yang sebenarnya.

Baca juga :  Tanamkan Nilai-nilai Tahun Baru Islam 1445 H, Polres Pelabuhan Makassar Lakukan Kurvei di Masjid

Akan tetapi kita dapat menganalisis wacana berdasarkan unit bahasa yang terkecil, yakni kata, diksi, atau frasa. Jika merujuk pada diksi “hajar” menurut versi pengacara Ferdy Sambo. Itu diucapkan pada saat menjelang Brigadir Yoshua ditembak oleh Brada Richard Eleizer. Diksi “hajar” ini harus dilihat diucapkan pada situasi apa dan di mana ? Sebab, analisis wacana memang mengkaji rangkaian ujar secara lisan dan tulisan atau rangkaian tindak tutur.

1
2TAMPILKAN SEMUA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Menulis Apa Adanya, Merawat Nurani: BugisPos Menapaki Usia 27 Tahun

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Tak semua media mampu menua dengan anggun. Sebagian gugur di tengah jalan, sebagian lain kehilangan...

Digelar Mei, Munafri Resmi Buka Registrasi Makassar Half Marathon 2026

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi membuka registrasi Makassar Half Marathon (MHM) 2026 dalam...

Dari Panrannuangta untuk Masa Depan: INTI Jeneponto Rayakan Dies Natalis ke-35 dan Wisuda Penuh Makna

PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO - Ruang Pola Panrannuangta, Kantor Bupati Jeneponto, Minggu (11/01/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar ruang resmi pemerintahan,...

Domino Naik Kelas, ORADO Sulsel Siap Kirim Atlet ke Level Nasional

PEDOMANRAKYAT, JAKARTA — Pengurus Besar Federasi Olahraga Domino (ORADO) Nasional secara resmi mendeklarasikan domino naik kelas sebagai olahraga nasional. Deklarasi...