Mengenang 80 Tahun Radi A. Gany, Goresan Pena Terakhir pada Usia ke-77

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M. Dahlan Abubakar

Di pondok ini, di atas kolam di ujung kampung kelahiran saya, Desa Kanca, Kecamatan Parado, sebuah permukiman kecil diapit bukit, 55 km ke arah selatan Kota Bima, saya menulis cerita ini. Masih pagi benar, 13 Februari 2020, saya terima kepergian Prof. Dr. Ir. Radi A. Gany yang sangat menyekakkan hati.

Saya menulis kisah ini dengan sanubari pilu, meningkahi kesedihan yang tidak tertara karena tak sempat menatap terakhir kali ketika Pak Radi menghadap Al Khalik. Air mata ini tak henti menetes saat membesuk keempat kalinya, termasuk sekali ketika dirinya terbaring kaku di ruang rawat intensif rumah sakit almamater kita dengan tubuh berseliweran kabel medik.

Prof. Dr. Ir. H. Radi A. Gany, inilah persembahan sebagai monumen persahabatan kita yang unik sepanjang 33 tahun tanpa putus. Persobatan unik karena posisi sebagai orang yang lebih muda, saya anggap Pak Radi sebagai ayah. Usia saya yang lebih muda 11 tahun menempatkan Pak Radi sebagai orang tua saya di rantau. Saya sebagai bawahan, ketika menjabat Pak Radi Rektor Universitas Hasanuddin antara tahun 1997 hingga 2006 yang sarat cerita dan kisah.

Pak Radi kerap menganggap saya sebagai kawan, ketika sedang berdua berjalan sebagai sahabat tanpa sekat. Meniadakan dinding bawahan, gelar, statifikasi sosial, usia, pangkat, dan entah apa lagi di antara kita saat se-pembaringan di Dili Timor Timur (1994) dan di Bantaeng yang saya sudah lupa tahun pastinya.

Catatan ini saya copot dari buku berjudul “Raibnya Cincin Permata Ungu” yang menjadi pengantar dari sebuah karya elegi duka khusus memperingati setahun kepergian Pak Radi. Buku ini merupakan karya pertama yang bergenre “elegi” dari puluhan karya yang pernah saya gores. Kisah Pak Radi dalam berbagai ruang dan cerita kita yang tak terbilang waktu. Belum pernah saya rasakan persahabatan yang demikian lekat dan dekat selain bersama Pak Radi.

Baca juga :  Pembimas Buddha Sulsel Adakan Pembinaan Moderasi Beragama Bagi Siswa Buddhis

Kita saling berkomunikasi jika lama tak sua dan mulai dibekuk rindu. Saya sangat maklum, Pak Radi selalu ingin ada teman untuk berbincang dan bercerita. Membahas dan menyoal apa yang hendak dilakukan, termasuk yang hendak ditulis memenuhi obsesinya sebagai penulis pascapensiun dan menapaktilasi perjalanan Alfred Russel Wallace yang membuat Wallace Line, Garis Wallace.

Saya begitu terharu, dalam sakitnya, saat Pak Radi masih memaksakan diri meski menggunakan kursi roda keluar dari kamar tempat biasa terbaring. Di kamar itu, saya sekali dua ikut mengangkat tubuh yang kian ringkih bersama Aco dari kursi roda ke pembaringan. Dalam kalimat yang tidak saya pahami sambil duduk di kursi roda Pak Radi mengatakan sesuatu. Ternyata, meminta diambilkan laptop. Putra saya Haryadi (Heri) menghidupkan laptop saat almanak menunjuk 8 Januari 2020.

Ternyata di situ ada tiga tulisan terakhir Pak Radi. Saya sangat sedih dan terharu, beliau benar-benar seorang penulis hingga tubuhnya kian ringkih. Beliau peringati usia ke-77 (30 Oktober 2019) dengan menggores tiga tulisan yang sangat fenomenal mengenai disiplinnya dan juga tentang pesan-pesan moral yang selalu beliau katakan kepada saya dan kepada siapa pun, tentang keadaban, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, dan akhlak.

Minus 1 tahun 11 bulan 13 hari

Hari ini, 30 Oktober 2022, genap 80 tahun kelahiran Pak Radi. Sayang usianya hingga detik ini, tidak sempat dijalani di dunia selama 1 tahun 11 bulan 13 hari, karena Al Khalik memanggilnya pada tanggal 13 Februari 2020. Pak Radi kemudian bersemayam dan menghuni Taman Pusara Universitas Hasanuddin di Patene Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros yang diresmikannya sendiri pada akhir tahun 2015, beberapa bulan menjelang akhir masa jabatannya sebagai Rektor Universitas Hasanuddin.

Baca juga :  Aliansi Wija to Luwu Gelar Aksi Demonstrasi Tolak Politik Dinasti

Saya masih menyimpan “Irigasi Tanpa Bendung”. Mengentas Keunggulan Komparatif untuk Kesejahteraan Petani Guram” buku yang ditulis pada tahun 2012, beberapa tahun setelah berhenti sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), 2006-2009. Buku ini merupakan realisasi proyek pemanfaatan pompa air ketika Pak Radi memimpin Wajo pada tahun 1988-1993 yang belum sempat dituangkan dalam satu buku.

Di halaman depan buku itu Pak Radi menulis, "Sosok dan pengabdian teman-teman dekatku yang sulit kulupakan. Peranan mereka selama mendampingiku di Tanah Wajo sungguh sangat besar. Aku berutang budi pada Anda semua sebagai pelaksana lapangan yang tangguh selaku camat pada waktu itu : Andi Sahibuddin Beddu (alm), Rusdin Manda, Andi Ampa Pasamula, Andi Burhanuddin Unru, Andi Pandu Djaya, Alwi Callakara, Fatahuddin (alm), Andi Syahrasyad, Andi Muchtar Jahja, Andi Patawari, Andi Syafaruddin, Andi Bengawan, Andi Nasrullah, Andi Muhammad Edy, Muh. Tamrin, dan ketiga orang mantan ajudanku : M. Chaeruddin (alm), Andi Rumpang (alm), Arfah, serta pengemudi setiaku : Abd.Rahman”.

Terasa benar ‘sunyi' diri ini. Terlebih jika tiba saatnya hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pesan pendek selalu mengalir ke gawai. Menyampaikan ucapan maaf lahir dan batin.

Prof. Radi

Pada besuk terakhir kali engkau gelisah tubuhmu pedih perih oleh gerah tubuhku mematung di dinding kaca dalam pandangan kosong tanpa kata, engkau pergi
tanpa tatap terakhir kali
dalam besuk di ujung Januari saat kita tak lagi bisa berkomunikasi, engkau pergi terasa dini
dalam sepi meninggalkan kami di awal hari 13 Februari.

Kini, tiada lagi sahabat saling mencari. Mengenang ketika masing-masing kita sendiri menyusun rencana aksi tentang agendamu yang kemudian tak usai.

Begitu berat kehilangan ini sobat lekat sejak dulu hingga kini, pergi
di beragam palagan kita berinteraksi mengenyahkan sekat stratifikasi.

Baca juga :  Sie Propam Polres Pelabuhan Makassar Terima Predikat Ranking 1 Penyelesaian Kasus Kode Etik Jajaran Polda Sulsel

Prof. Radi abadilah dirimu di sana tanpa yang menemani
menemui Al Khalikmu yang menanti. Ya, Allah, terimalah hamba-Mu ini dalam pelukan-Mu di alam surgawi.

Makassar, 30 Oktober 2022.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Sampaikan Belasungkawa, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Rawat Demokrasi Sehat

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat, khususnya para tokoh dan pimpinan Islam, untuk...

Kodam XIV/Hasanuddin Bersama Forkopimda dan Ormas Teguhkan Deklarasi “Sulsel Damai”

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Semangat kebersamaan untuk menciptakan suasana aman dan damai di Sulawesi Selatan kembali diteguhkan. Kodam XIV/Hasanuddin...

Dr. Ibrahim H. Ahmad Pimpin KMBS Periode 2025-2030

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Musyawarah KMBS dengan agenda pemilihan calon ketua Kerukunan Masyarakat Bima Sulawesi Selatan (KMBS), di kediaman...

UKI Paulus Makassar Kukuhkan 247 Lulusan Pascasarjana, Mayoritas Jalur RPL

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus Makassar kembali menambah daftar alumninya. Sebanyak 247 lulusan program pascasarjana resmi...