JIKA di Indonesia pada saat ujian tengah semester atau pun akhir semester, para mahasiswa dilarang membuka buku, di Universitas Birstol, Inggris justru sebaliknya. Nah, inilah yang berbeda dengan di Indonesia. Ujiannya lebih banyak berupakan kegiatan menulis mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan. Ujian diarahkan agar mahasiswa lebih banyak menulis esai, berbeda dengan di Indonesia yang ujiannya kerap diberikan dalam bentuk pilihan (ganda).
“Mahasiswa bebas ‘open book’ (membuka buku) karena mahasiswa dituntut untuk menyintesiskan suatu pengetahuan yang diperolehnya yang lebih banyak terungkap melalui tulisan esai yang diarahkan dapat mengembangkan ide-ide,” kata Iin Fadhilah Utami.
Kalau di Indonesia pada saat ujian lebih diarahkan kepada mengulang pemahaman mahasiswa tentang kuliah yang diberikan, di Universitas Bristol justru mahasiswa dituntut bagaimana memantik pemikirannya. Aspeknya lebih menitikberatkan kepada “critical thinking” (pemikiran kritis)-nya.
“Ujiannya lebih banyak menulis dan ‘open book’. Mahasiswa harus membuat tulisan-tulisan akademik sesuai bidangnya masing-masing,” kata lulusan SD dan SMP Athirah (2008 dan 2010) ini.
Soal fasilitas, semua bagus. Jaringan internet gratis tersedia. Para mahasiswa tidak saja diajari oleh dosen muda, tetapi juga profesor dan praktisi berbagai bidang terkait yang diundang oleh universitas. Jadi, mahasiswa memperoleh kuliah yang diberikan dosen dari universitas lain. Mereka memperkenalkan diri ketika akan memulai kuliahnya, baik melalui kuliah daring maupun luring. Pada umumnya, mereka adalah orang-orang yang sudah sangat populer di bidangnya masing-masing. Ada di antara mereka itu praktisi yang bukan dosen. Mereka saling berbagi pengetahuan dan pengalaman di bidangnya masing-masing kepada para mahasiswa.
“Yang paling menarik dan saya sukai”, kata Iin Fadhilah Utami, “adalah fasilitas belajar. Tersedia banyak ruang belajar. Begitu pun ruang di perpustakaan pun banyak”.
“Terdapat sekitar 10 spot belajar yang nyaman dilengkapi Wi-Fi,” kata Iin Fadhilah Utama yang ketika diwawancarai sedang berada di perpustakaan “Art and Social Sciense” (seni dan ilmu sosial) dan terdengar bunyi pintu yang tiada henti karena banyak mahasiswa yang keluar dan masuk.