Yang kedua, kata Hamdan, tantangan terbesar kita adalah bagaimana menjadikan universitas ini universitas yang unggul. Pertama, tentu adalah tata kelola organisasi dan keuangan. Kedua, standar dan kualifikasi para dosen dan pengajar. Ini penting sekali untuk segera ditingkatkan dan diperbaiki agar memenuhi kualifikasi sebagai perguruan tinggi yang unggul.
“Untuk menjadikan perguruan yang unggul, di program studi (10), haruslah semuanya atau paling tidak lebih dari setengahnya, harus unggul. Kalau tidak, kita tidak akan mencapai posisi unggul itu. Dan untuk itu, kualifikasi tenaga pengajar, sistem pendidikan dan mutu perguruan tinggi ini harus kita tingkatkan semuanya,” harap Hamdan.
Tantangan lain, kata Hamdan, “student body” (jumlah mahasiswa). Jumlah mahasiswa kita untuk ‘running” (berkembangnya) sebuah perguruan tinggi yang baik, paling tidak memiliki minimal 5.000 mahasiswa. Unswa harus mencapai lebih dari 5.000 mahasiswa. Kita pernah memiliki pengalaman lebih dari 10.000 mahasiswa pada tahun 2009 s.d. 2011 dan seterusnya. Jumlah ini menurun ketika menghadapi masalah dan kita harus bangun kembali universitas ini.
Untuk mendapatkan “student body” yang besar, jumlah mahasiswa yang besar, kata Hamdan, harus di atas 5.000. Untuk mencapai angka ini, minimal setiap tahun kita harus menerima mahasiswa paling tidak 1.300 orang. Dengan jumlah ini, Insya Allah pada tahun ke-4, kita akan mencapai lebih dari 5.000 mahasiswa.
“Oleh sebab itu, saya berharapl, kita di seluruh jajaran universitas ini, betul-betul bahwa “student body”, jumlah mahasiswa yang memadai itu sangat penting untuk segala aspek pengembangan universitas ini, karena universitas itu berkembang dari mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang besar akan memberikan kekuatan tersendiri bagi Unswa untuk dikembangkan, ” harap Hamdan.
Tantangan kita ke depan, imbuh Hamdan, adalah menghadapi dua sekaligus. Pertama, sebagaimana target kita, universitas ini kita jadikan sebagai universitas yang unggul dalam bidang penelitian pengemangan sains dan teknologi. Universitas yang harus pada saatnya nanti menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di Pulau Sumbawa, NTB, dan Indonesia bagian Tinmur pada umumnya.
Kedua, kita tidak semata-mata melihat dari sisi itu, tetapi pada aspek lain. “Out put” (keluaran) mahasiswa yang dihasilkan harus siap bekerja dan diterima di dunia kerja. Oleh sebab itu “link and match” (konsep keterkaitan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja/dunia industri) dalam pengembangan Unswa, sehingga “out put”-nya tidak menganggur, tetapi langsung bisa bekerja. Kalau tidak menjadi pekerja, tetapi kita harus kembangkan mahasiswa harus menjadi pengusaha, wiraswasta yang bisa membuka lapangan kerja. Orientasi kita bukan semata-mata untuk mencari kerja, melainkan harus membangun jiwa-jiwa wirausaha yang dikembangkan di universitas ini. Sebab tidak mungkin pada saat yang akan datang dengan jumlah alumni perguruan tinggi yang demikian banyaknya di Indonesia dengan lapangan kerja yang sempit, tetapi kita harus bisa melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang bisa bekerja mandiri untuk membangun usaha dan wirausaha.
“Yang ketiga adalah tantangan penerapan nilai-nilai baru di universitas ini. Kita harus memiliki karakteristik nilai yang menjadi basis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen, dalam perilaku dan budaya seluruh civitas academica, baik itu mahasiswa, tenaga pendidikan, dan seluruhnya harus terus menerus mengembangkan nilai-nilai budaya yang berbasis kepada nilai-nilai Islam yang menjadi dasar pengembangan Unswa, Nilai-nilai ‘nggusuwaru’, (segi delapan), nilai ‘maja labo dahu’ (malu dan takut), yang merupakan nilai-nilai yang unggul dalam budaya Bima harus dikembangkan sebagai basis pengembangan institusi ini,” tegas Hamdan.
Tantangan yang terakhir, kata Hamdan, adalah teknologi informasi. Kita harus melakukan transformasi seluruh aspek dalam pendidikan, tata kelola dalam bidang teknologi informasi. Termasuk dalam tata kelola keuangan, manajemen, hubungan mahasiswa, dan lain sebagainya harus dimanfaatkan sedemikian rupa dengan teknologi informasi yang berkembang saat ini.
“Saya memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh, kakak saya Rektor Unswa Prof.Dr.Ahmad Thib Raya yang memiliki pengalaman yang sangat luas di bidang pendidikan akan bisa membawa Unswa jauh lebih baik. Tetapi saya perlu ingatkan kepada seluruh civitas academica, tidak mungkin rektor berjalan sendiri. Tidak mungkin kita hanya mengharapkan kepada rektor, tetapi kita harus bekerja sama dengan seluruh, tenaga dosen, tenaga kependidikan, termasuk mahasiswa harus memiliki cita-cita dan pondasi yang sama dalam pengembangan universitas ini,” ungkap Hamdan kemudian menambahkan, Rektor belum sepenuhnya ada di Bima setiap hari karena ada tugas-tugas negara yang lain, yang harus dilaksanakan, saya minta betul, wakil tektor, para dekan, bekerja secara bersama-sama dengan inspirasi rektor. (MDA).