Catatan Wartawan :(3) Menyamar sebagai Karyawan EMKU

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Keterangan foto: Menlu Adam Malik menyerahkan Piala Adinegoro kepada Panda Nababan, 1976.

Oleh M.Dahlan Abubakar

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Ini catatan terakhir pengalaman wartawan Panda Nababan yang saya kutip dari bukunya. Saya suka membaca bukunya ini karena banyak trik dan kenakalannya dalam mengendus informasi sebagai bahan tulisan. Selain dua pengalaman yang saya tulis sebelumnya, kali ini dia melakukan peliputan investigatif di Bandara Internasional Halim Perdanakusumah Jakarta yang diresmikan Presiden Soeharto 10 Januari 1974, lima hari sebelum pecah peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.
Belum dua tahun beroperasi, marak tersiar rumor praktik penyelundupan dan manipulasi di bandara ini. Redaksi “Sinar Harapan” (SH), tempat Panda Nababan bekerja, memandang perlu praktik penyelundupan dan manipulasi diungkap ke publik. Panda Nababan didampingi fotografer Harry Kawilarang pun ditugaskan. Keduanya diberi waktu dua minggu penuh menyusun laporan.
Ada sedikit kegalauan di benak Panda. Kalau bekerja dengan atribut wartawan, jelas akan banyak instansi yang dihubungi bakal tutup mulut. Tidak terbuka memberi keterangan. Otak Panda pun jalan. Dia putuskan akan menyamar sebagai karyawan Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU). Menyaru sebagai karyawan ini, dia sudah dapat memastikan akan memiliki akses luas di Halim. Apatah lagi, dia berkenalan dengan pimpinan salah satu EMKU yang beroperasi di Halim, Gilbert Arhur Pesik.
Gilbert, tak hanya sebagai pebisnis, tetapi juga guru karateka. Dia memiliki idealisme, bahkan muak dengan keadaan di Halim. Panda pun menawarkan kepadanya akan menyamar sebagai karyawan EMKU. Dia setuju, meskipun penuh dengan keberanian menanggung risiko lantaran mengizinkan Panda menggunakan identitas perusahaanya. Panda pun diberi seragam dan identitas pula.
Dua minggu Panda menyadi “karyawan” EMKU. Bahkan dia sempat memberi “amplop”, sogokan dalam map berisi uang kepada oknum petugas Bea dan Cukai. Juga menyuap penjaga gudang Cardig Air yang dia istilahkan bagaikan pasar, sesuatu yang sudah menjadi “budaya” di Halim dalam mengurus barang.
Di gudang ini, tulis Panda, orang sudah tidak bisa membedakan mana calo dan orang perorangan yang mengurus barangnya sendiri. Kalau seseorang masuk ke gudang itu, tidak ada yang memperhatikan karena sudah begitu campur baur. Pemandangan yang paling mencolok adalah tingkah lalu oknum petugas BC di gudang itu. Secara mencolok tanpa memedulikan orang di sekitarnya, mereka ini tampak benar bagaimana menerima biaya siluman atau uang pelicin, baik dari karyawan EMKU, calo-calo, dan perorangan yang mengurus dan menyelesaikan dokumen pabeannya.
Setelah merasa cukup memahami seluk-beluk “permainan” aparat di Halim, Panda pun mengonfirmasi teman-teman di redaksi kepada pihak yang berwewenang di Halim. Laporan berseri Panda muncul di SH 27 s.d. 29 Oktober 1975, bertajuk “Mengamati Pelabuhan Udara Halim PK”.
Panda mendeskripsikan hasil pekerjaannya sebagai “karyawan EMKU” dua minggu itu di SH secara manis. Serial laporan ini membawa berkah bagi Panda. Dia diganjar Anugerah Jurnalistik Adinegoro, penghargaan tertinggi atas karya jurnalistik wartawan di republik ini pada tahun 1976. Adam Malik menyerahkan penghargaan bergengsi itu.
Namun, saat seri pertama tulisan itu tayang di SH, banyak intimidasi dan teror dialamatkan ke kantor SH. Bentuknya, melalui pesan-pesan yang disampaikan ke wartawan lain. Isinya, minta Panda menghentikan tulisan tentang Halim tersebut. Melihat gelagat yang kurang baik itu, Pemred SH, menasihati Panda kabur sementara dari Jakarta selama serial tulisan itu tayang. Panda menolak, dia tetap pulang ke rumah. Dia merasa tidak ada bahaya apa-apa.
Pasca-seri kedua tayang, suatu malam, saat Panda ke Pasar Santa, Kebayoran Baru yang menyita waktu relatif lama, para tetangga melaporkan, datang segerombolan laki-laki tegap berambut cepak berkendaraan jip. Mereka menyatroni rumah Panda yang saat itu hanya ditunggu seorang asisten rumah tangga. Rombongan laki-laki tak dikenal itu masuk secara paksa dan mengacak-acak mencari Panda Nababan.
Begitu Panda tiba di rumah, warga satu kompleks dengan dia heboh. Para tetangga mendatangi kediaman Panda. Dari mereka diketahui, gerombolan laki-laki tadi rupanya ingin menculik Panda Nababan, Aksi yang memang lagi tren pada masa itu. Setelah situasi itu, Panda Nababan bersama keluarga tetap bergeming. Tetap tinggal karena merasa sudah menjadi warga di permukiman tersebut. Sudah cukup lama dan akrab dengan warga kampung tersebut yang sebagian besar orang Betawa.
“Saya tak merasa takut, buat apa mengungsi!,” kunci Panda Nababan pada halaman 136 bukunya. (11 Agustus 2025).

Baca juga :  Sinjai Peroleh Bantuan Keuangan Pembinaan Atlet dari Gubernur Sulsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Langkah Preventif Mitigasi Banjir: Lurah Kunjung Mae Inspeksi Saluran Air di Kawasan Strategis

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Semangat untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga seolah tak pernah padam dari nadi kepemimpinan Lurah...

KH Masse Laibu Terpilih Aklamasi Memimpin MUI Pinrang

PEDOMANRAKYAT, PINRANG - Pelaksana tugas Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pinrang, KH Masse Laibu, akhirnya terpilih secara...

Jumat Berkah, Polwan Polres Soppeng Berbagi

PEDOMAN RAKYAT, SOPPENG – Sebagai bentuk kepedulian sosial serta upaya mempererat hubungan antara Polri dengan masyarakat ,Polisi Wanita...

Harmoni Tanpa Sekat: Simfoni Persaudaraan SMANSA 81–82 dalam Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Alumni lintas generasi SMA Negeri 1 (SMANSA) Makassar kembali mengukuhkan eksistensi persaudaraan lintas iman melalui...