Kehati-hatian bukan tanda ketakutan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Imbauan PSMTI bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi atas realitas sosial yang kian rapuh oleh derasnya arus informasi.
Mereka yang pernah merasakan getirnya konflik masa lalu paham betul bahwa gesekan kecil bisa melebar menjadi luka besar.
Dalam narasi mereka, ketenangan bukan berarti pasif, melainkan strategi menjaga kewarasan bersama.
PSMTI menempatkan dirinya sebagai bagian dari jaring sosial bangsa, berusaha menahan riak yang bisa berubah menjadi gelombang perpecahan.
Seruan ini mengingatkan bahwa di balik riuh demonstrasi, ada kerja sunyi menjaga persatuan yang sering kali tak terlihat.
PSMTI mengingatkan betapa mudahnya sebuah video atau gambar menyulut api di tengah kerumunan yang sudah panas oleh isu politik.
“Jangan sebarkan berita atau narasi yang tidak jelas sumber maupun kebenarannya,” tulis PSMTI dalam imbauannya yang ditandatangani pengurus pusat.
Dalam dunia maya, satu klik bagikan bisa bermakna memercikkan bensin ke atas bara api yang belum padam.
Dengan kata lain, yang diminta PSMTI bukan sekadar diam, tetapi aktif memilih diam demi menghindari runtuhnya kepercayaan sosial.
“Bangun kewaspadaan diri, bukan ketakutan,” tegas Wilianto, menyiratkan pesan agar tiap individu menjadi penjaga lingkungannya.
Ia mengajak warga untuk berkoordinasi dengan perangkat keamanan lokal, menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat lintas elemen, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sikap itu, kata dia, akan menumbuhkan kekuatan sosial yang tidak mudah diguncang isu atau provokasi.
PSMTI memilih bahasa sederhana: saling asah, asih, dan asuh, sembari menegaskan bahwa hanya dengan kebersamaan bangsa ini bisa melewati badai.
Sekretaris Umum PSMTI, Peng Suyoto, menambahkan catatan penting untuk masyarakat dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini.
“Mari kita saling menjaga, saling asah, asih dan asuh sesama anak bangsa dan tidak terpengaruh provokasi ataupun narasi yang memecah belah,” ujar Peng Suyoto.
Ia menegaskan agar masyarakat tidak bepergian jika tidak mendesak, serta menjauhi titik keramaian yang rawan dimanfaatkan sebagai ruang provokasi.
Pesannya sederhana namun tajam: lebih baik menahan langkah sejenak daripada menyesal ketika situasi memburuk.
Kehati-hatian bukan tanda ketakutan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Imbauan PSMTI bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi atas realitas sosial yang kian rapuh oleh derasnya arus informasi.
Mereka yang pernah merasakan getirnya konflik masa lalu paham betul bahwa gesekan kecil bisa melebar menjadi luka besar.
Dalam narasi mereka, ketenangan bukan berarti pasif, melainkan strategi menjaga kewarasan bersama.
PSMTI menempatkan dirinya sebagai bagian dari jaring sosial bangsa, berusaha menahan riak yang bisa berubah menjadi gelombang perpecahan.
Seruan ini mengingatkan bahwa di balik riuh demonstrasi, ada kerja sunyi menjaga persatuan yang sering kali tak terlihat. ( ab/r )