PEDOMAN RAKYAT, MAKASSAR - Perkumpulan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) menyerukan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh isu atau berita yang belum tentu benar di tengah situasi terkini.
Kabar tentang aksi unjuk rasa yang merebak di ibu kota dan sejumlah daerah lain menyebar cepat, bercampur dengan desas-desus yang sulit dibedakan antara fakta dan rekayasa.
Di tengah arus informasi yang deras, suara seruan tenang muncul dari sebuah organisasi sosial yang sudah puluhan tahun berdiri, Perkumpulan Sosial Marga Tionghoa Indonesia atau PSMTI.
Seruan Ketum PSMTI
Ketua Umum PSMTI, Wilianto Tanta, menyadari bahwa badai informasi bisa lebih berbahaya daripada aksi di jalanan.
“Jangan mudah terprovokasi oleh isu atau berita yang belum tentu benar, pastikan setiap informasi diverifikasi dari sumber resmi dan terpercaya,” ujarnya.
Imbauan itu tertuang dalam pernyataan resmi PSMTI pada 29 Agustus 2025, berisi ajakan agar masyarakat tetap jernih berpikir ketika gelombang kabar simpang siur datang menghantam.
Wilianto menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi informasi, karena dari satu unggahan yang salah bisa lahir keresahan yang merambat cepat.
Bagi PSMTI, menjaga nalar adalah langkah pertama menjaga persatuan bangsa.
Poin kedua dalam seruan itu menyentil kebiasaan baru masyarakat digital: membagikan kabar tanpa menimbang kebenaran.
PSMTI mengingatkan betapa mudahnya sebuah video atau gambar menyulut api di tengah kerumunan yang sudah panas oleh isu politik.
“Jangan sebarkan berita atau narasi yang tidak jelas sumber maupun kebenarannya,” tulis PSMTI dalam imbauannya yang ditandatangani pengurus pusat.
Dalam dunia maya, satu klik bagikan bisa bermakna memercikkan bensin ke atas bara api yang belum padam.
Dengan kata lain, yang diminta PSMTI bukan sekadar diam, tetapi aktif memilih diam demi menghindari runtuhnya kepercayaan sosial.
Di poin terakhir, PSMTI mengingatkan bahwa masyarakat tidak bisa hanya menunggu keadaan reda tanpa melakukan apa pun.
“Bangun kewaspadaan diri, bukan ketakutan,” tegas Wilianto, menyiratkan pesan agar tiap individu menjadi penjaga lingkungannya.
Ia mengajak warga untuk berkoordinasi dengan perangkat keamanan lokal, menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat lintas elemen, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sikap itu, kata dia, akan menumbuhkan kekuatan sosial yang tidak mudah diguncang isu atau provokasi.
PSMTI memilih bahasa sederhana: saling asah, asih, dan asuh, sembari menegaskan bahwa hanya dengan kebersamaan bangsa ini bisa melewati badai.
Imbauan Sekum PSMTI
Sekretaris Umum PSMTI, Peng Suyoto, menambahkan catatan penting untuk masyarakat dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini.
“Mari kita saling menjaga, saling asah, asih dan asuh sesama anak bangsa dan tidak terpengaruh provokasi ataupun narasi yang memecah belah,” ucapnya.
Ia menegaskan agar masyarakat tidak bepergian jika tidak mendesak, serta menjauhi titik keramaian yang rawan dimanfaatkan sebagai ruang provokasi.
Pesannya sederhana namun tajam: lebih baik menahan langkah sejenak daripada menyesal ketika situasi memburuk.
Kehati-hatian bukan tanda ketakutan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Imbauan PSMTI bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi atas realitas sosial yang kian rapuh oleh derasnya arus informasi.
Mereka yang pernah merasakan getirnya konflik masa lalu paham betul bahwa gesekan kecil bisa melebar menjadi luka besar.
Dalam narasi mereka, ketenangan bukan berarti pasif, melainkan strategi menjaga kewarasan bersama.
PSMTI menempatkan dirinya sebagai bagian dari jaring sosial bangsa, berusaha menahan riak yang bisa berubah menjadi gelombang perpecahan.
Seruan ini mengingatkan bahwa di balik riuh demonstrasi, ada kerja sunyi menjaga persatuan yang sering kali tak terlihat.
PSMTI mengingatkan betapa mudahnya sebuah video atau gambar menyulut api di tengah kerumunan yang sudah panas oleh isu politik.
“Jangan sebarkan berita atau narasi yang tidak jelas sumber maupun kebenarannya,” tulis PSMTI dalam imbauannya yang ditandatangani pengurus pusat.
Dalam dunia maya, satu klik bagikan bisa bermakna memercikkan bensin ke atas bara api yang belum padam.
Dengan kata lain, yang diminta PSMTI bukan sekadar diam, tetapi aktif memilih diam demi menghindari runtuhnya kepercayaan sosial.
“Bangun kewaspadaan diri, bukan ketakutan,” tegas Wilianto, menyiratkan pesan agar tiap individu menjadi penjaga lingkungannya.
Ia mengajak warga untuk berkoordinasi dengan perangkat keamanan lokal, menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat lintas elemen, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sikap itu, kata dia, akan menumbuhkan kekuatan sosial yang tidak mudah diguncang isu atau provokasi.
PSMTI memilih bahasa sederhana: saling asah, asih, dan asuh, sembari menegaskan bahwa hanya dengan kebersamaan bangsa ini bisa melewati badai.
Sekretaris Umum PSMTI, Peng Suyoto, menambahkan catatan penting untuk masyarakat dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini.
“Mari kita saling menjaga, saling asah, asih dan asuh sesama anak bangsa dan tidak terpengaruh provokasi ataupun narasi yang memecah belah,” ujar Peng Suyoto.
Ia menegaskan agar masyarakat tidak bepergian jika tidak mendesak, serta menjauhi titik keramaian yang rawan dimanfaatkan sebagai ruang provokasi.
Pesannya sederhana namun tajam: lebih baik menahan langkah sejenak daripada menyesal ketika situasi memburuk.
Kehati-hatian bukan tanda ketakutan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain.
Imbauan PSMTI bukan sekadar seruan moral, melainkan refleksi atas realitas sosial yang kian rapuh oleh derasnya arus informasi.
Mereka yang pernah merasakan getirnya konflik masa lalu paham betul bahwa gesekan kecil bisa melebar menjadi luka besar.
Dalam narasi mereka, ketenangan bukan berarti pasif, melainkan strategi menjaga kewarasan bersama.
PSMTI menempatkan dirinya sebagai bagian dari jaring sosial bangsa, berusaha menahan riak yang bisa berubah menjadi gelombang perpecahan.
Seruan ini mengingatkan bahwa di balik riuh demonstrasi, ada kerja sunyi menjaga persatuan yang sering kali tak terlihat. ( ab/r )