Jawaban semacam ini justru menyingkap borok yang lebih dalam: birokrasi yang menutup pintu dialog, pemerintah desa yang lupa pada fungsinya sebagai pengayom, bukan penguasa. Di mana transparansi? Di mana hak pemuda atas dana kepemudaan yang semestinya ada?
Teror boleh datang, stigma boleh dilempar, tetapi suara pemuda tak bisa dipenjara. Agustus bukan hanya tentang bendera yang dikibarkan, melainkan tentang keberanian generasi muda menuntut haknya.
“Wajar saja jika pemuda mencari haknya. Wajar saja jika pemuda merespon Agustus dengan cara berbeda,” tegas Alif.
SSB Batugarumbing sudah bicara: mereka tidak takut.
( Musakkir Basri )