Oleh: Ardhy M Basir
Akhir tahun sering datang dengan gegap gempita. Kalender dihitung mundur, kembang api disiapkan, resolusi disusun rapi seolah hidup bisa diatur hanya dengan angka. Tapi bagi saya, penutup 2025 justru hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: satu pesan WhatsApp, seporsi ikan bakar, dan dua sahabat lama.
“Assalamualaikum. Posisi?”
Pesan singkat dari Om Awing itu datang di siang hari, ketika saya sedang berada di rumah dan bersiap makan. Ajakan makan ikan bakar di warung pinggir danau, depan Masjid Cheng Ho, terdengar biasa saja. Tapi justru di situlah maknanya. Ada ajakan yang tak perlu dipikir panjang, karena ia datang dari hubungan yang sudah melampaui basa-basi.
” Ada rencana yang bisa ditunda. Tapi ada silaturahmi yang tidak pantas diabaikan “, gumamku.
Perjalanan ke arah Center Point of Indonesia terasa lebih lengang dari biasanya. Angin siang Makassar membawa rasa akhir tahun—tenang, sedikit melankolis, seolah kota sedang bersiap menutup satu bab cerita. Tanpa perlu bertanya, saya tahu siapa lagi yang akan ada di sana. Persahabatan punya cara sendiri untuk saling membaca.
Di warung itu, di tepi Danau Maccini Sombala, tidak ada yang istimewa jika dilihat sepintas. Meja lesehan, box gabus berisi ikan segar, sambal racikan sendiri, dan pelayan yang bekerja dengan wajah tulus. Tapi justru dari hal-hal sederhana itu, hidup sering kali terasa utuh.

