Dalam sambutannya, Idham Pananrangi, putra tertua dari pasangan Andi Pananrangi dan Hj. Chaerany, mewakili keluarga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh kerabat dan tamu yang hadir. Dengan nada tenang namun sarat haru, ia menyinggung perjalanan panjang kedua orang tuanya membesarkan 11 orang anak, 4 laki-laki dan 7 perempuan. Dari sebelas bersaudara itu, satu telah lebih dahulu berpulang, namun namanya tetap hidup dalam kenangan dan doa keluarga. Kini, perjalanan itu berlanjut pada generasi ketiga. Tiga belas cucu, 10 laki-laki dan 3 perempuan menjadi bukti bahwa cinta dan keteladanan tak berhenti pada satu masa. Syukuran khitanan para cucu yang dirangkaikan dalam acara ini menjadi simbol estafet kehidupan: tentang tumbuh, dewasa, dan melanjutkan nilai-nilai keluarga yang ditanamkan sejak awal.
Ada satu detail yang membuat perayaan ini terasa semakin istimewa. Menurut Andi Pananrangi, setelah mempelajari siklus penanggalan, diketahui bahwa hari pernikahan 50 tahun lalu—Jumat, 02 Januari 1976 jatuh tepat pada hari yang sama di tahun 2026. Lima puluh tahun berselang, Jumat itu kembali hadir, seolah menjadi penanda bahwa waktu boleh berlalu, tetapi makna tetap menetap.
Syukuran ini bukan hanya tentang angka atau usia pernikahan. Ia adalah kisah tentang kesetiaan yang ditempa waktu, iman yang diwariskan, serta keluarga yang tumbuh dalam doa dan kebersamaan. Di Swiss Beliin sore itu, syukur dipanjatkan agar cinta yang telah berumur setengah abad ini terus menjadi rumah yang teduh bagi anak, cucu, dan generasi-generasi yang akan datang. (Ardhy M Basir)


