Lima Puluh Tahun dalam Satu Jumat: Syukur, Doa, dan Jejak Cinta Keluarga Pananrangi

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT - MAKASSAR. Waktu seolah berputar pelan di Swiss Beliin, Panakkukang, Makassar, Jumat (02/01/2026). Di tempat yang dipenuhi kehangatan keluarga, syukuran 50 tahun pernikahan Ir. H. Andi Pananrangi AS dan Dra. Hj. Chaerany MY dirangkaikan dengan syukuran khitanan para cucu, menjadi satu perayaan utuh tentang perjalanan cinta, iman, dan regenerasi keluarga.

Bukan sekadar seremoni, acara ini menjelma ruang refleksi tentang bagaimana sebuah rumah tangga bertahan setengah abad, sekaligus menyambut tumbuhnya generasi penerus dengan doa dan harapan yang sama.

Rangkaian acara diawali dengan lantunan Kalam Ilahi. Suasana menjadi khidmat ketika Muh. Andi Asyam Nur Idham, cucu tertua, melantunkan Tilawatil Qur’an dengan suara jernih dan penuh penghayatan. Putra dari pasangan Idham Pananrangi dan Rachmi itu seolah menghadirkan pesan bahwa nilai spiritual telah hidup dan diwariskan sejak dini dalam keluarga besar ini.

Lantunan ayat suci itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan terjemahan Al-Qur’an oleh Muh. Althaf Javier Waldhy Basir, cucu kedua tertua, putra dari pasangan Waldhy Ardhy M Basir dan Andi Irshydah Pananrangi. Dua cucu, dua peran, satu pesan: iman menjadi fondasi yang mengikat lintas generasi.

Dalam sambutannya, Idham Pananrangi, putra tertua dari pasangan Andi Pananrangi dan Hj. Chaerany, mewakili keluarga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh kerabat dan tamu yang hadir. Dengan nada tenang namun sarat haru, ia menyinggung perjalanan panjang kedua orang tuanya membesarkan 11 orang anak, 4 laki-laki dan 7 perempuan. Dari sebelas bersaudara itu, satu telah lebih dahulu berpulang, namun namanya tetap hidup dalam kenangan dan doa keluarga. Kini, perjalanan itu berlanjut pada generasi ketiga. Tiga belas cucu, 10 laki-laki dan 3 perempuan menjadi bukti bahwa cinta dan keteladanan tak berhenti pada satu masa. Syukuran khitanan para cucu yang dirangkaikan dalam acara ini menjadi simbol estafet kehidupan: tentang tumbuh, dewasa, dan melanjutkan nilai-nilai keluarga yang ditanamkan sejak awal.

Baca juga :  Lari Pagi Bersama Prajurit, Pangdam XIV/Hsn Sebut Pembinaan Fisik Adalah Kunci Menjaga Kebugaran Personel

Ada satu detail yang membuat perayaan ini terasa semakin istimewa. Menurut Andi Pananrangi, setelah mempelajari siklus penanggalan, diketahui bahwa hari pernikahan 50 tahun lalu—Jumat, 02 Januari 1976 jatuh tepat pada hari yang sama di tahun 2026. Lima puluh tahun berselang, Jumat itu kembali hadir, seolah menjadi penanda bahwa waktu boleh berlalu, tetapi makna tetap menetap.

Syukuran ini bukan hanya tentang angka atau usia pernikahan. Ia adalah kisah tentang kesetiaan yang ditempa waktu, iman yang diwariskan, serta keluarga yang tumbuh dalam doa dan kebersamaan. Di Swiss Beliin sore itu, syukur dipanjatkan agar cinta yang telah berumur setengah abad ini terus menjadi rumah yang teduh bagi anak, cucu, dan generasi-generasi yang akan datang. (Ardhy M Basir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Pangdam XIV/Hasanuddin: Setiap Prajurit Pilar Kekuatan Satuan

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko menegaskan bahwa setiap prajurit merupakan pilar utama kekuatan satuan....

Dari Bangku SD ke Podium Nasional, Aina Fadhillah Ramadhan Raih Emas Pencak Silat

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR — Aina Fadhillah Ramadhan, siswi UPT SPF SD Negeri Balang Baru 1 Makassar, sukses meraih medali...

Angka Perceraian di Wajo Naik Sepanjang 2025, Capai 1.006 Perkara

PEDOMANRAKYAT, WAJO - Angka perceraian di Kabupaten Wajo semakin mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 1.006 perkara perceraian,...

Mentan Amran Menolak Dicalonkan lagi, Semua Ketua IKA Unhas Aklamasi

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menolak dicalonkan kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni...