PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Sabtu sore, 3 Januari 2026, Cafe Sinrili di Makassar tak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma ruang silaturahmi—tempat hati saling menyapa, doa saling bertaut, dan kenangan lama menemukan rumahnya kembali. Di sanalah Arisan IKB PPSP IKIP Ujung Pandang putaran kedelapan periode 2025/2026 digelar, bertepatan dengan langkah pertama kita memasuki tahun baru 2026.
Putaran demi putaran arisan sering kali dipersepsikan sebatas urusan giliran, angka, dan kewajiban. Namun sore itu, arisan ini seperti ingin berkata lain: bahwa perjumpaan bukanlah sekadar “menggugurkan” putaran, apalagi semata kumpul dan makan-makan.
Ia adalah ikhtiar merawat persaudaraan yang pernah tumbuh di bangku SMA, lalu diuji oleh jarak, waktu, dan kesibukan hidup masing-masing.
Dalam perspektif iman, silaturahmi adalah ibadah yang kerap kita sepelekan karena ia hadir dalam bentuk yang sederhana: duduk bersama, bercakap ringan, saling menanyakan kabar. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa silaturahmi melapangkan rezeki dan memanjangkan umur—bukan semata usia biologis, tetapi umur keberkahan. Maka setiap tawa yang pecah, setiap cerita yang dibagi, sejatinya adalah investasi ruhani yang tak tercatat dalam buku arisan mana pun.
Putaran kedelapan ini terasa lebih bermakna karena hadir di awal tahun. Seolah menjadi penanda bahwa 2026 dibuka bukan dengan gemuruh resolusi pribadi semata, melainkan dengan niat kolektif: menjaga hubungan baik, membersihkan prasangka, dan memperbarui komitmen persaudaraan. Tahun baru bukan hanya soal mengganti kalender, tetapi menata ulang hati—dan silaturahmi adalah salah satu jalannya.

