Untuk bahan cair, digunakan air bening dan tawar, sementara pemanis fermentasi menggunakan gula merah atau molase. Fahmawati juga menjelaskan bahwa gula pasir lokal masih dapat digunakan selama bukan gula putih hasil pemurnian tinggi.
Dalam praktik tersebut, peserta menggunakan galon sebagai wadah fermentasi dan timbangan untuk memastikan perbandingan bahan tetap tepat. Salah satu poin penting yang ditekankan adalah air tidak boleh melebihi 60 persen dari kapasitas wadah, agar tersedia ruang bagi gas hasil fermentasi.
Suasana praktik berlangsung interaktif dan antusias. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan Eco Enzym. Melalui kegiatan ini, diharapkan warga sekolah semakin memahami pentingnya pengelolaan sampah organik serta mampu menerapkan pola hidup ramah lingkungan mulai dari lingkungan sekolah dan rumah.
Praktik pembuatan Eco Enzym ini juga dibimbing langsung oleh guru yang menjadi bagian dari edukasi lingkungan dan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa menjaga alam dapat dimulai dari langkah kecil, sederhana, dan berkelanjutan. (Ardhy M Basir)

