“Sekali layar terkembang, pantang surut kembali ke pantai. Artinya, ketika merantau, kita siap ikut membangun daerah tempat kita berada,” jelasnya.
Ia mengakui belum ada data pasti jumlah warga Sulawesi Selatan di Maluku. Namun, sebaran terbesar berada di Kota Ambon, Maluku Tengah, dan Maluku Tenggara. Terlepas dari jumlah, yang terpenting adalah kontribusi nyata, baik di bidang ekonomi maupun sosial budaya.
Sebagai organisasi, KKSS terus melakukan konsolidasi agar program-programnya dirasakan langsung oleh anggota dan masyarakat.
“Paguyuban ini adalah rumah besar kita. Harus solid dan kompak. Para tokoh mesti satu kata, sesuai namanya: Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan,” tegas lelaki Bugis yang akrab disapa Ulan itu.
Dalam menjaga persatuan, Ruslan menolak adanya pengkotak-kotakan subetnis Sulawesi Selatan. Meski Bugis, ia memastikan seni budaya Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja selalu tampil dalam setiap kegiatan KKSS.
“Seni budaya selalu kami hadirkan di Mukerwil maupun rapat kerja,” ujarnya, mengenang pula event besar KKSS Maluku di masa lalu yang pernah menghadirkan penyanyi legendaris Iwan Tompo.
Ruslan, generasi ketiga perantau Sulawesi Selatan di Ambon, lahir dan besar di Kota Ambon Manise. Riwayat pendidikannya ditempuh di SDN 1 Tawiri, SMPN 3 Ambon, dan SMAN 2 Ambon.
Selain aktif di KKSS, ia juga menjadi pengurus Al-Wathan Ambon dan menjabat Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Maluku.
“Samua aktivitas beta ini berkaitan dengan semangat merawat harmonisasi dalam bingkai pluralisme,” pungkasnya dalam logat khas Melayu Ambon.
( Ardhy M Basir )

