Prestasi itu bukan hasil kerja instan. Ia lahir dari konsistensi dan keberanian menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.
Dari Perlindungan Anak ke Dunia Pendidikan
Kepercayaan baru datang pada Senin, 16 Juni 2025. Di Ruang Sipakatau Balaikota Makassar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Achi Soleman dilantik bersama 45 pejabat lingkup Pemerintah Kota Makassar. Pelantikan dilakukan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dan disaksikan unsur Forkopimda.
Pada momen itulah, Achi resmi mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Penunjukan ini terasa logis. Dari DP3A ke Dinas Pendidikan, benang merahnya tetap sama: anak-anak. Bedanya, kini ruang pengabdiannya lebih luas. Bukan hanya soal perlindungan, tetapi juga mutu, akses, dan masa depan pendidikan.
Achi menyatakan komitmennya untuk segera mengevaluasi program-program pendidikan yang telah berjalan. Ia juga berjanji merancang kebijakan yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan zaman. Pengalaman panjangnya dalam mengelola isu sosial menjadi modal penting untuk melihat pendidikan secara utuh—bukan sekadar angka dan laporan, tetapi ekosistem yang menyangkut guru, murid, dan keluarga.
Menyemai Masa Depan
Bagi Achi Soleman, pendidikan bukan sekadar urusan kurikulum. Ia adalah upaya menyemai masa depan. Itulah sebabnya, setiap kali bertemu anak-anak, ia memilih untuk mendekat, mendengar, dan melibatkan mereka.
Seperti guntingan pita di Sambung Jawa, Achi percaya bahwa perubahan besar sering dimulai dari gestur kecil—dari keberanian melihat anak-anak bukan sebagai objek kebijakan, melainkan subjek masa depan.
Dengan rekam jejak yang kuat di bidang perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, harapan pun mengiringi langkahnya di Dinas Pendidikan Kota Makassar: menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh generasi penerus. ( Ardhy M Basir )

